IMIP < Bawaslu-ads
Derap Nusantara

Menjaga Gunung Hapuk Sebagai Sumber Mata Air Bagi Suku Dayak Meratus

134
×

Menjaga Gunung Hapuk Sebagai Sumber Mata Air Bagi Suku Dayak Meratus

Sebarkan artikel ini
Menjaga Gunung Hapuk Sebagai Sumber Mata Air Bagi Suku Dayak Meratus
Menjaga Gunung Hapuk Sebagai Sumber Mata Air Bagi Suku Dayak Meratus

KABAR LUWUK – Fajar mulai menyingsing. Pantulan sinar matahari dari ufuk timur mengisyaratkan sebuah kehidupan sederhana di kampung Dayak Meratus yang terbentang luas di bukit-bukit Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, mulai menggeliat.

Sebuah perkampungan di Pegunungan Meratus, tepatnya di Desa Hinas Kanan RT 4, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, ada sebuah kampung yang dihuni suku Dayak yang berjumlah sekitar 20 kepala keluarga (KK).

Di antara penduduk itu, ada seorang lelaki paruh baya, Madi, namanya. Lelaki keturunan asli suku Dayak Meratus itu adalah orang pertama yang menemukan sumber mata air di Gunung Hapuk, letaknya lima kilometer dari tempat tinggal penduduk. Untuk menuju kampung itu, dari Kota Barabai (Ibu Kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah), berjarak puluhan kilometer.

Dalam perjalanan sore hari, Pegunungan Meratus tampak terhampar jelas di depan mata. Pohon-pohon menjulang tinggi, masih terjaga kelestariannya. Keindahan alam itu menjadi anugerah bagi suku Dayak yang tinggal di pegunungan tersebut.

Menoleh ke ufuk barat, kala matahari mulai terbenam, terlihat cahaya merah jingga menyinari vegetasi yang menyelimuti Pegunungan Meratus. Pemandangan alam ini memperkuat alasan mengapa Kalimantan disebut sebagai paru-paru bagi dunia.

Setelah puluhan kilometer perjalanan, terlihat jalan membelah punggung bukit Pegunungan Meratus. Kendaraan roda dua yang khusus dirancang melintasi jalan setapak di hutan, mengantarkan sampai ke rumah Madi yang berada di puncak bukit.

Sebelum era tahun 2000, lelaki yang kini sudah memiliki dua anak dan satu cucu itu, dahulu bersama penduduk di kampung Dayak yang tidak lebih dari 10 kepala keluarga, mereka  terbiasa berjalan kaki turun ke kaki gunung yang berjarak belasan kilometer untuk mencari air. Tinggal di wilayah pegunungan, di puncak bukit,  tidak menjadikan  penduduk di sini mudah mendapatkan sumber mata air.

Namun,  dengan keseharian masyarakat suku Dayak Meratus  yang biasa berburu kancil ke berbagai penjuru hutan, akhirnya ditemukan mata air yang dapat dimanfaatkan Madi  bersama 20 kepala keluarga di kampung itu. Madi menemukan sumber mata air pada 2014 di sebuah bukit yang diberi nama “Gunung Hapuk”. 

Untuk sampai ke Gunung Hapuk itu, sebelum jalur dibuka, Madi harus berjalan kaki membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari rumah tinggalnya. Menapak bukit yang terjal, lelaki  ini membawa sebilah parang untuk membuka jalur. Dia lihai membuka semak belukar berkat kemampuan berburu yang sudah turun temurun.

Mata air Gunung Hapuk, berada beberapa meter di punggung bukit yang memiliki kemiringan 50-70 derajat.  Sejak mata air itu ditemukan, suku Dayak di kampung ini berusaha menjaga kelestarian alam Gunung Hapuk. Mereka menyadari bahwa sumber mata air tersebut berasal dari hutan di sekitarnya. 

Oleh karena itu,  masyarakat  tidak ingin ada aktivitas pertambangan, dan pendatang juga tidak boleh sembarangan memasuki wilayah kampung tersebut. Pemerintah daerah bahkan juga telah menyusun rencana pembangunan jangka panjang daerah yang mengutamakan revolusi hijau yang melarang  aktivitas pertambangan di kabupaten itu.

“Bahkan, pemerintah daerah memiliki program ASN wajib menanam pohon secara rutin. Ini upaya menjaga kelestarian Pegunungan Meratus,” kata Bupati Hulu Sungai Tengah, Aulia Oktafiandi.

Sejak ditemukannya sumber mata air, setapak demi setapak  suku Dayak memulai kehidupan dengan bertani, menanami lahan di pegunungan dengan singkong, pisang, sayuran, dan umbi-umbian. Mereka membuat bendungan buatan dari sumber mata air yang ada. Pertanian tidak hanya untuk kebutuhan ekonomi, tapi menjadi salah satu cara mereka menjaga keasrian dan kelestarian Gunung Hapuk.

 
Bendungan tradisional 

Madi dan warga kampung membuat bendungan buatan di  sekitar Gunung Hapuk.  Mereka menggali lubang di titik ditemukannya sumber mata air sekitar 1 meter, lebar  2 meter dan panjang sekitar 1,5 meter.

Penduduk kampung membuat bendungan tradisional dengan bahan seadanya. Mengumpulkan batu-batu, mengorek pasir tanah lalu mencampurkan dengan sedikit semen agar batu-batu ini bisa dijadikan bendungan untuk menampung air.

Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada 2015 melalui pemerintah desa memberikan bantuan pipa untuk mengalirkan air dari sumber mata air ke permukiman penduduk Dayak Meratus. Pemerintah daerah setempat juga membangun satu buah toilet dan kamar mandi, tiga unit tandon penampungan air berukuran sekitar 1.500 liter.

Penduduk merasa lega. Jika sebelumnya harus turun ke kaki gunung yang cukup jauh untuk mandi dan menampung air bersih, kini warga sudah bisa mendapatkan air bersih yang hanya berjarak sekitar 10-30 meter dari rumah tinggalnya. Sebulan sekali Madi rutin naik ke Gunung Hapuk, untuk mengontrol agar pipa tidak tersumbat tumpukan daun dan ranting.

Untuk memperbarui pipa yang sudah lapuk dan tak layak pakai, Madi dan penduduk menyisihkan sedikit rezeki dari penghasilan sehari-hari dari bertani. Meski tidak banyak, namun rupiah dari tanaman singkong, padi darat, pisang, sedikit membantu mengganti pipa yang lapuk.

Memasuki Juni 2023, musim kemarau panjang tiba.Meski mata air dari Gunung Hapuk tidak kering total, namun berdampak berkurangnya volume aliran air. Kemarau panjang dampak El Nino juga dirasakan13 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.

Ketua Posko Pegunungan Meratus, Kasman Susanto, berharap pemerintah daerah untuk membangunkan infrastruktur, seperti  jalan dan listrik di kampung yang dihuni Madi dan lainnya.  Pemerintah daerah kemudian membangun jalan sepanjang sembilan kilometer dari puncak tempat tinggal Madi dan penduduk lainnya, menuju ke kaki gunung.  Mereka bersyukur, kesulitan  semakin berkurang. 

 

Proyek bendungan Kementerian PUPR

Bupati Hulu Sungai Tengah Aulia Oktafiandi pada Oktober 2023 mendatangi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mengajukan proyek pembangunan Bendungan Pancur Hanau  yang  berjarak sekitar delapan kilometer dari kampung Madi.

“Saya sudah melakukan audiensi dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR. Pembangunan bendungan ini sangat penting karena menyangkut kebutuhan air orang banyak,” kata Aulia menjelaskan. Apalagi, Kabupaten Hulu Sungai Tengah merupakan pemangku persediaan pangan dari tiga kabupaten di Kalimantan Selatan, dan sedang disiapkan sebagai gerbang pangan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Penduduk di kampung Madi kembali bernafas lega, sekiranya proyek ini terealisasi, mereka tidak lagi sepenuhnya mengandalkan mata air dari puncak pegunungan yang kadang kering saat musim kemarau.

Selain untuk pemenuhan kebutuhan air suku Dayak Meratus, Bendungan Pancur Hanau akan dimanfaatkan untuk mengairi lahan sawah untuk memperkuat produksi pertanian tanaman padi. Ada potensi tambahan 5.500 hektare lahan yang dapat dialiri air, dengan adanya bendungan ini. Estimasi panen padi di Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang semula 60.000 ton per tahun, diharapkan meningkat menjadi 120.000-130.000 ton.

Direktur Bendungan dan Danau Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR Adenan Rasyid mengatakan Bendungan Pancur Hanau yang diusulkan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah sudah masuk ke dalam program kementerian.

“Bendungan Pancur Hanau Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini masuk dalam tahap feasibility study (studi kelayakan). Pembangunan ini adalah untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat,” kata Adenan.

Madi dan warga di kampungnya kini cukup lega karena sejumlah infrastruktur telah dibangun dan dapat dinikmati. Mereka yang tinggal di kawasan hutan Gunung Hapuk, Pegunungan Meratus, ini juga akan tetap merawat dan melestarikan alam yang ada demi kesejahteraan masyarakat setempat, saat ini dan masa datang. (ANTARA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!