KABAR LUWUK— Kesuksesan besar tidak pernah lahir dari proses yang instan. Di balik berdirinya perusahaan perkebunan kelapa sawit Kurnia Luwuk Sejati (KLS), tersimpan kisah panjang perjuangan almarhum Murad Husain yang dimulai dari kehidupan sederhana hingga menjadi salah satu pengusaha sukses di Kabupaten Banggai.
Kisah itu diceritakan langsung oleh putrinya, Sulianti Murad, dalam Podcast “Ngopi” atau Ngobrol Pikiran Bareng PWI Banggai yang ditayangkan di akun youtube PWI Banggai, belum lama ini.
Dengan penuh haru, Sulianti Murad Chief Executive Officer (CEO) PT KLS ini, mengenang perjalanan sang ayah yang penuh jatuh bangun selama puluhan tahun membangun usaha dari nol.
Menurut Sulianti, almarhum Murad Husain merupakan keturunan Toraja yang sejak kecil sudah terbiasa bekerja keras. Bahkan di usia 14 tahun, ia sudah bekerja serabutan di rumah makan demi membantu kehidupan keluarga.
“Beliau dari kecil memang sudah terbiasa kerja keras. Waktu sekolah juga jualan kue. Pendidikan beliau hanya sampai Sekolah Rakyat atau setara SD,” ungkap Sulianti Murad yang juga Ketua Gerindra Kabupaten Banggai.
Murad Husain muda kemudian bekerja bersama pamannya, seorang pengusaha Toraja bernama Mantigi yang dikenal sukses pada masanya. Dari sanalah ia mulai belajar dunia usaha dan perdagangan.
Pada era 1970-an, Murad Husain datang ke Luwuk. Saat itu kondisi kota masih sangat sederhana.
Ia tinggal di rumah kontrakan di kawasan Jalan Nyiur dan bekerja sebagai karyawan yang membeli hasil bumi, terutama kopra, dari wilayah Luwuk dan pulau-pulau sekitar untuk dijual kembali ke Surabaya. Usaha itu dijalani hingga sekitar tahun 1976.
Berbekal pengalaman dan keberanian, Murad Husain akhirnya memutuskan mandiri dan mendirikan CV Kurnia, cikal bakal KLS saat ini.
“Awalnya memang hanya usaha kopra. Modal usaha juga pinjam dari Bank Dagang Negara (Yang saat ini bernama Bank Mandiri). Kepala bank waktu itu percaya dan memberikan pinjaman modal kepada beliau,” cerita Sulianti.
Kepercayaan itulah yang kemudian terus diingat Murad Husain sepanjang hidupnya. Meski banyak tawaran dari bank lain dengan berbagai kemudahan, ia tetap setia menjadi nasabah Bank Mandiri karena merasa tidak melupakan jasa pihak yang pertama kali membantunya membangun usaha.
Memasuki era 1980-an, usaha Murad Husain berkembang. Ia mulai merambah dunia kontraktor dan pembangunan infrastruktur. Salah satu proyek besar yang pernah dikerjakan adalah ruas jalan Uwekuli–Ampana pada tahun 1991.
Proyek sepanjang lebih dari 100 kilometer itu bahkan membuat Murad Husain mendapat penghargaan dari Menteri Pekerjaan Umum karena berhasil menyelesaikannya dalam beberapa tahun anggaran.
“Beliau banyak membangun ruas jalan dan jembatan, termasuk Jembatan Bongka,” kata Sulianti.
Tidak berhenti di situ, Murad Husain kembali mengembangkan usaha ke sektor Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Namun kondisi politik dan ekonomi nasional yang tidak stabil menjelang reformasi membuat dunia usaha saat itu penuh tantangan.
Di tengah situasi tersebut, Murad Husain mengambil keputusan besar. Pada tahun 1997, ia mulai beralih ke usaha perkebunan kelapa sawit yang kemudian berkembang menjadi Kurnia Luwuk Sejati (KLS).
“Jadi jangan hanya melihat beliau sudah berhasil. Perjalanannya panjang sekali. Selama kurang lebih 60 tahun beliau bekerja keras. Berkali-kali jatuh bangun dan sempat hampir putus asa, tapi tetap bangkit. Ada jalan Allah berikan,” tutur Sulianti.
Salah satu momen penting dalam perjalanan hidup Murad Husain terjadi saat krisis moneter tahun 1998. Ketika nilai rupiah anjlok, ia disebut menukarkan sekitar 3 juta dolar miliknya ke rupiah untuk membantu perputaran ekonomi di masa sulit tersebut.
Tidak hanya itu, untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan, tepatnya pada 21 Januari 1998 Murad Husain juga turut menyumbangkan 10 ribu dolar miliknya secara cuma-cuma.
Aksi sang dermawan itu sontak memantik simpati publik di seantero negeri ini. Tak terkecuali dari kalangan media.
“Saat diwawancarai media tentang alasan menyumbangkan dolarnya, bapak menjawab sederhana, bahwa sesungguhnya ia telah diuntungkan oleh negara, karena telah memberi peluang bisnis. Sekarang negara memerlukan bantuan, ya kita harus berikan,” tutur Sulianti mengenang Almarhum.
Pengorbanan yang dilakukan tanpa pamrih ternyata berbuah keberkahan-membuka akses. PT KLS pun semakin dikenal luas dan berkembang.
“Alhamdulillah, sampai saat ini diusia perusahaan sudah setengah abad, PT KLS masih tetap eksis. Ini adalah berkah yang selalu kita syukuri,”ucapnya.
Di luar dunia bisnis, Murad Husain juga dikenal memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Salah satu kontribusinya yang masih dirasakan masyarakat hingga kini adalah keterlibatan dalam pembangunan kawasan Masjid Agung An Nur Luwuk.
Menurut Sulianti, saat itu pemerintah daerah belum memiliki anggaran untuk melakukan penimbunan kawasan yang masih berupa rawa. Murad Husain kemudian membantu melakukan pekerjaan tersebut.
“Masjid Agung, DPRD, SPBU hingga ruko-ruko di kawasan itu ditimbun oleh beliau. Pembayarannya bukan uang, tetapi tanah,” ungkapnya.
Nilai-nilai kepedulian sosial itu kemudian diwariskan kepada anak-anaknya. Sulianti mengaku sejak kecil diajarkan bahwa rezeki yang diperoleh bukan hanya milik pribadi, tetapi juga ada hak orang lain yang membutuhkan.
“Orang tua kami selalu mengajarkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” katanya.
Kegiatan sosial keluarga Murad Husain pun terus berjalan, mulai dari membantu rumah ibadah, memberikan sembako, hingga membantu masyarakat kurang mampu dan janda lanjut usia.
Tidak hanya itu, keluarga besar KLS juga mewujudkan cita-cita lama almarhum Murad Husain untuk membangun pondok pesantren. Keinginan tersebut akhirnya terealisasi pada tahun 2021 dan mulai berjalan pada 2023.
“Harapannya pesantren ini bisa menjadi amal jariyah bagi orang tua kami dan ikut mencerdaskan anak-anak di Kabupaten Banggai,” ujar Sulianti.
Di akhir perbincangan, Sulianti berharap Kabupaten Banggai terus berkembang menjadi daerah yang aman, nyaman, makmur, dan memiliki pendidikan serta pelayanan kesehatan yang semakin merata.
Ia juga berharap masyarakat Banggai terus menjaga nilai kebersamaan dan akhlak sosial demi mewujudkan daerah yang sejahtera dan menjadi tujuan wisata yang nyaman bagi semua orang. (Rls)



