KABAR LUWUK – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Tompotika (UNTIKA) menggelar pelatihan pengolahan hasil samping kelapa menjadi produk bernilai ekonomi di Desa Kampangar, Kecamatan Balantak Utara, Kabupaten Banggai, (9/5/2026).
Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM) berkelanjutan sekaligus pemanfaatan potensi lokal yang melimpah.
Dalam pelatihan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada cara pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO), tepung ampas kelapa, serta pot tanaman berbahan sabut kelapa.
Kegiatan diikuti perangkat desa, ibu-ibu PKK, pemuda, dan puluhan warga yang antusias mempelajari keterampilan baru.
Mahasiswa KKN menjelaskan secara rinci tahapan pembuatan setiap produk, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan yang higienis, hingga teknik pengemasan agar produk memiliki daya simpan lebih lama dan nilai jual yang lebih tinggi.
Pembuatan VCO diperkenalkan sebagai peluang usaha karena produk tersebut memiliki banyak manfaat kesehatan dan permintaan pasar yang cukup luas.

Sementara itu, ampas kelapa yang selama ini sering dibuang diolah menjadi tepung kaya serat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran kue dan berbagai olahan pangan lainnya.
Selain itu, warga juga mendapat pelatihan membuat pot tanaman dari sabut kelapa. Produk kerajinan ramah lingkungan tersebut dinilai memiliki nilai estetika dan dapat digunakan untuk kebutuhan pertanian maupun dekorasi rumah.
Koordinator Desa Pulo Dua, Sunatullah, mengatakan kegiatan ini bertujuan membekali masyarakat dengan keterampilan baru agar mampu mengoptimalkan potensi alam setempat, mengurangi limbah, serta membuka peluang usaha baru.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya mengandalkan penjualan kelapa mentah, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Hal ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, di mana SDM yang terampil dapat meningkatkan ekonomi keluarga dan lingkungan sekitar secara mandiri,” ujarnya.
Salah seorang peserta pelatihan mengaku bersyukur atas ilmu yang diberikan. Ia berharap keterampilan tersebut dapat terus dikembangkan dan menjadi usaha bersama masyarakat desa.
“Selama ini banyak bagian kelapa yang terbuang sia-sia. Sekarang kami tahu bahwa semuanya bisa diolah menjadi barang yang berguna dan bernilai ekonomi,” katanya.
Pemerintah desa setempat turut mengapresiasi program tersebut dan berkomitmen mendukung keberlanjutan hasil pelatihan, di antaranya melalui pembentukan kelompok usaha bersama agar produk olahan kelapa dapat dipasarkan lebih luas.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNTIKA berharap masyarakat semakin kreatif, mandiri, dan memiliki daya saing, sekaligus mampu menjaga kelestarian lingkungan melalui pemanfaatan limbah secara bijak. (Rls)



