Hidayat Lamakarate Seorang Programmer Besar, Sang Matahari Khatulistiwa

oleh -

Catatan Oleh : Irwan K Basir

KABAR LUWUK, PALU – Sejarah ditulis oleh para pemenang. Sejarah setiap manusia unggul tidak pernah benar-benar terjadi karena faktor kesempatan, akan tetapi lebih kepada faktor pilihan. Kita adalah programmer dari program kita sendiri. Ketika seorang programmer dapat secara bebas menulis dan merencanakan beragam program, kita selalu punya pilihan melanjutkan, merombak bahkan mengganti program sebelumnya.

Julukan ‘Matahari Khatulistiwa’ pada sosok Hidayat Lamakarate benar-benar diperankan dengan baik olehnya. Hidayat sadar, kebebasan bukan jadi sesuatu pemberian oleh orang lain, dalam isi kepalanya tidak ada seorangpun yang dapat mengurungi niatnya meninggalkan ‘zona nyaman’ sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) tertinggi di Sulawesi TengahTengah untuk maju sebagai Calon Gubernur.

Baca Juga  Legenda Tano Sampaka

Di satu sisinya sebagai manusia biasa, dia kehilangan semua karirnya, jaminan hidupnya. Di sisi lain, spiritualitanya sangat kuat, dia sadar hanya Tuhan yang menjamin dan memperjalankan ‘Matahari Khatulistiwa’.

Maka menjadi lucu, jika kemudian ada yang mengatakan Hidayat Lamakarate menggebu-gebu mengejar jabatan karena dibanding lawannya dia satu-satunya Calon Gubernur Sulteng yang sebelum maju memiliki jabatan strategis.

Namun tak semua orang memahami ini, bak cahaya matahari, cahayanya terhalang oleh awan-awan gelap. Mulai dari dibujuk untuk tidak maju sebagai Calon Gubernur, serangan bahwa dirinya akan ‘kalah doi’ dan mustahil mendapat dukungan partai adalah sebuah ujian untuknya.

Lantas apa tanggapannya? Dia terus melesat, melangkah dan meneruskan apa yang telah menjadi pilihan seorang programmer. Sadar tak semua orang diterpa cahayanya, mudah baginya memaklumi kawan dan lawan yang tak sepaham hingga yang tak menyukainya.

Baca Juga  Legenda Tano Sampaka

‘Politik santun’ menjadi sebuah langkah sejarah yang ditulis oleh sosok Hidayat Lamakarate. Ia juga mengajarkan kita arti sebuah kebabasan diri, yang bukan hanya soal pilihan ini-itu, mereka-kami atau lawan-kawan, Hidayat Lamakarate juga mengajarkan pada kita kebebasan hati, bahwa kita lah programmer kita sendiri yang berhak menentukan semua pilihan; suka, senang, sedih, marah dan cinta. Karena pada akhirnya, apa yang kita berikan kepada dunia lebih penting dari apa yang kita dapatkan dari dunia.