KABAR LUWUK – Bukan hanya soal membuat produk yang enak, pelaku UMKM kini dituntut mampu membuat produknya dikenal dan ditemukan konsumen.
Bagi sejumlah pelaku UMKM di Kabupaten Banggai, tantangan itu mulai dijawab dengan belajar memanfaatkan teknologi digital, memperbaiki kemasan dan label, hingga memahami bagaimana sebuah produk lokal dapat dipasarkan ke pasar yang lebih luas.
Hal tersebut terlihat dalam pelatihan “UMKM Go Export Goes Global” yang digelar PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) di Community Learning Center (CLC) DSLNG, Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Rabu (5/8/2026).
Sebanyak 26 pelaku UMKM mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari anggota dan pengurus Asosiasi UMKM Maima (ASOKA), UMKM binaan CSR DSLNG, serta pelaku UMKM dari Kecamatan Batui, Kintom, dan Nambo.
Selama pelatihan, peserta tidak hanya mendengarkan pemaparan materi. Mereka langsung mencoba membuat dan mengoptimalkan Google Business serta memanfaatkan marketplace seperti Shopee untuk memasarkan produk.
Bagi sebagian peserta, penggunaan platform digital tersebut menjadi pengalaman baru. Shopee, misalnya, selama ini lebih banyak dikenal sebagai tempat berbelanja, padahal platform tersebut juga dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk menjangkau konsumen dan memperluas pemasaran produk.
“DSLNG mendukung UMKM untuk berkembang dan berhasil meningkatkan pendapatan melalui berbagai kegiatan, salah satunya pelatihan Go Export Goes Global yang dikolaborasikan dengan Dinas Koperasi UMKM dan Kantor Pelayanan Bea Cukai Luwuk. Melalui pelatihan ini mitra binaan kami mendapatkan perspektif baru tentang kemudahan ekspor produk ke luar Banggai melalui layanan yang diberikan oleh Pemerintah. Pelaku usaha juga diajarkan tentang pengelolaan kanal penjualan digital untuk meningkatkan penjualan produk mereka,” jelas Febriant Abby, Manajer CSR DSLNG.
Peserta juga diperkenalkan dengan pemanfaatan ChatGPT sebagai salah satu alat bantu dalam mengembangkan usaha.
Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membantu mencari ide desain produk, membuat konsep kemasan dan label, hingga mendukung berbagai kebutuhan pemasaran.
Salah seorang peserta, Neka, mengaku senang mendapatkan pengalaman baru melalui pelatihan tersebut. Ia mengatakan pengetahuan yang diperoleh membantunya memahami bahwa pengembangan produk tidak berhenti pada proses produksi, tetapi juga mencakup bagaimana produk dikemas dan dipasarkan.
“Saya sangat senang dan bangga bisa mengikuti pelatihan ini karena mendapatkan pengalaman dan kemampuan baru. Saya juga jadi tahu bagaimana membuat kemasan, label, serta melakukan pemasaran secara digital,” kata Neka.
Selain digital marketing, peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai dasar-dasar ekspor.
Materi tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Banggai Amin Jumail, dan Pendamping Wirausaha Baru, Adrian Polim, serta Kepala Seksi Penindakan dan Penyisikan dan Fikri dari Bagian Penyuluh Bea Cukai Luwuk, Thomas Edi Purwanto.
Materi dari Dinas Koperasi dan UMKM mencakup digital marketing, branding, marketplace, dan Google Business. Sementara Bea Cukai memberikan pemahaman mengenai prosedur dan dokumen ekspor, regulasi, standar produk, serta peluang yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk memasuki pasar internasional.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Ekonomi Lokal DSLNG untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM di sekitar wilayah operasi perusahaan.
Produk yang dikembangkan para peserta sendiri banyak memanfaatkan potensi lokal Banggai. Mulai dari abon ikan, ikan suwir, aneka keripik pisang, berbagai olahan ikan, hingga produk makanan lainnya.
Potensi bahan baku lokal tersebut menjadi salah satu kekuatan yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Namun, agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas, pelaku UMKM juga perlu memperhatikan kualitas produk, tampilan kemasan, identitas merek, strategi pemasaran, serta pemenuhan standar yang dibutuhkan untuk ekspor. (Rls)
