KABAR LUWUK — Pengurus Wilayah Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Tengah menerima kunjungan kerja dari manajemen PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Palu, Selasa (22/9/2026).
Pertemuan hangat penuh keakraban ini membahas dinamika serta arah perkembangan pers siber di tengah gelombang disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI).
Delegasi PT IMIP dipimpin langsung oleh Direktur Komunikasi Dr. Emilia Bassar bersama Head of Media Relations Dedy Kurniawan.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh Ketua AMSI Sulteng Mohammad Iqbal, Sekretaris Abdee Mari, beserta jajaran pengurus inti.
Diskusi strategis yang berlangsung interaktif tersebut menyoroti bagaimana kehadiran teknologi AI mengubah pola kerja media dalam memproduksi serta mendistribusikan informasi publik.
Kendati demikian, kedua belah pihak sepakat bahwa teknologi canggih tersebut bukanlah ancaman mematikan bagi profesi wartawan, melainkan instrumen pendukung untuk mendongkrak produktivitas kerja jurnalistik.
“AI bukan ancaman. Media harus bergandengan dengan AI,” tegas Ketua AMSI Sulteng, Mohammad Iqbal, di hadapan para pengurus dan tamu undangan.
Iqbal memaparkan bahwa pemanfaatan perangkat AI sangat membantu tugas-tugas teknis media.
Namun, ia mengingatkan agar teknologi tersebut ditempatkan secara proporsional sebagai alat bantu, dan tidak boleh menggeser marwah utama jurnalisme seperti verifikasi data, pencarian konteks, kedalaman reportase, serta pertanggungjawaban etika pemberitaan.
Perkuat Konteks Pemberitaan Kawasan Industri
Selain isu teknologi, pertemuan ini juga mengupas pentingnya kapasitas jurnalis dalam meracik berita terkait kawasan industri berskala besar.
Pemberitaan seputar korporasi tambang dan manufaktur dinilai tidak boleh sebatas melaporkan permukaan peristiwa semata.
Direktur Komunikasi PT IMIP, Dr. Emilia Bassar, menekankan bahwa kompleksitas aktivitas di kawasan industri menuntut sajian informasi yang kaya konteks agar publik memahami posisi strategis suatu wilayah dalam rantai pasok industri global.
“Dengan pendekatan tersebut, media dapat membantu masyarakat memahami industri yang berkembang di Sulawesi Tengah, termasuk manfaat, aktivitas, serta dampaknya terhadap daerah,” ungkap Emilia.
Ia menambahkan, kehadiran industri pengolahan nikel di Kabupaten Morowali tidak hanya memberikan dampak ekonomi lokal bagi Sulawesi Tengah, melainkan memiliki keterkaitan erat dengan skala kepentingan nasional hingga internasional.
Oleh karena itu, posisi media massa lokal dinilai sangat krusial sebagai garda terdepan penjaga informasi yang objektif.
Di sisi lain, Emilia turut mengapresiasi eksistensi AMSI Sulteng dalam mengawal ekosistem pers yang sehat. Pihaknya menyatakan keterbukaan penuh untuk bersinergi dan menyediakan akses informasi transparan bagi media.
“Kami percaya jika teman-teman AMSI terus melakukan pengembangan peningkatan kapasitas bagi pengurus dan anggotanya, media yang ada di Sulteng ini akan menjadi mitra strategis secara profesional untuk membangun Indonesia, khususnya Sulawesi Tengah,” puji Emilia.
Tegaskan Standar Profesionalisme dan Verifikasi Dewan Pers
Menutup rangkaian diskusi, Mohammad Iqbal menegaskan komitmen organisasinya dalam menjaga marwah perusahaan pers anggota AMSI.
Penguatan profesionalisme tidak hanya berhenti pada peningkatan keterampilan digital, melainkan menuntut kepatuhan mutlak terhadap standar verifikasi Dewan Pers.
Menurutnya, status verifikasi pers membawa konsekuensi moral yang tinggi bagi perusahaan media untuk terus menjaga akurasi, independensi, dan kode etik jurnalistik.
AMSI bahkan tidak ragu memberikan teguran internal apabila ada anggotanya yang terbukti menyimpang dari rel profesionalisme.
“AMSI sendiri punya beban moral ketika ada yang menyimpang. Kami bisa tegur. Setidaknya jangan bikin malu AMSI,” pungkas Iqbal menekankan. (Rls)
