KABAR LUWUK – Di tengah laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah yang tergolong tinggi secara nasional, posisi Kabupaten Banggai justru berada di peringkat ke-12 dari 13 kabupaten/kota dalam capaian pertumbuhan ekonomi tahun 2026.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banggai tercatat sebesar 3,78 persen, hanya lebih tinggi dari Kabupaten Buol yang berada di posisi terakhir. Sementara itu, daerah lain seperti Morowali Utara dan Morowali melesat jauh dengan pertumbuhan dua digit.
Secara umum, ekonomi Sulawesi Tengah sendiri tumbuh 8,47 persen, menjadikannya salah satu provinsi dengan pertumbuhan tertinggi kedua di Indonesia.

Kontras Tajam: Banggai vs Kawasan Industri
Kesenjangan posisi Banggai menjadi semakin terlihat jika dibandingkan dengan wilayah berbasis industri seperti Morowali Utara (19,97%) dan Morowali (10,81%). Kedua daerah tersebut ditopang kuat oleh sektor industri pengolahan berbasis nikel yang menjadi motor utama ekonomi Sulawesi Tengah.
Sementara itu, Banggai belum mampu mengejar akselerasi tersebut, meskipun memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar.
Analisis: Mengapa Banggai Tertinggal?
- Ketergantungan pada Sektor Tradisional
Struktur ekonomi Banggai masih didominasi sektor primer seperti pertanian, perikanan, dan sebagian pertambangan. Sektor-sektor ini cenderung memiliki pertumbuhan lebih lambat dibanding industri pengolahan bernilai tambah tinggi. - Minim Hilirisasi Industri
Berbeda dengan Morowali yang telah menjadi pusat hilirisasi nikel dan industri smelter, Banggai belum memiliki kawasan industri besar yang mampu mendorong lonjakan pertumbuhan signifikan. - Rendahnya Daya Ungkit Investasi
Pertumbuhan ekonomi tinggi di Sulawesi Tengah sangat ditopang oleh investasi besar, terutama Penanaman Modal Asing (PMA). Banggai relatif belum menjadi magnet utama investasi skala besar. - Keterbatasan Infrastruktur dan Konektivitas
Akses logistik dan infrastruktur menjadi faktor penting. Daerah dengan konektivitas kuat cenderung lebih cepat berkembang karena mampu menarik industri dan ekspor.
Posisi ke-12 ini memberi sinyal bahwa Banggai berisiko tertinggal dalam:
peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, daya saing regional.
Padahal, dalam konteks regional, pertumbuhan ekonomi Sulawesi bahkan menjadi yang tertinggi secara nasional pada 2025, menunjukkan peluang besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh Banggai.
Meski tertinggal, Banggai masih memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan melalui:
Pengembangan hilirisasi sektor unggulan (perkebunan, perikanan, migas),
Mendorong investasi industri pengolahan lokal,
Penguatan konektivitas wilayah dan pelabuhan,
Optimalisasi ekspor daerah,
Jika mampu bertransformasi dari ekonomi berbasis komoditas mentah ke industri bernilai tambah, Banggai berpotensi keluar dari papan bawah dalam beberapa tahun ke depan.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banggai yang berada di posisi ke-12 menjadi alarm penting di tengah pesatnya ekonomi Sulawesi Tengah.
Ketimpangan antarwilayah semakin nyata, terutama antara daerah berbasis industri dan daerah yang masih bertumpu pada sektor tradisional.
Tanpa percepatan industrialisasi dan investasi, Banggai berisiko semakin tertinggal dalam arus pertumbuhan ekonomi regional yang kian kompetitif. (IKB)



