Internasional

PEP Donggi Matindok Field Raih Penghargaan Tertinggi di Forum Inovasi Internasional di China

1134
×

PEP Donggi Matindok Field Raih Penghargaan Tertinggi di Forum Inovasi Internasional di China

Sebarkan artikel ini

KABAR LUWUK – Komitmen dalam pengolahan produk samping operasi untuk keberlanjutan lingkungan guna diolah menjadi pupuk organik yang diterapkan di lahan pertanian jagung di Desa Kayowa, Kec. Batui, Kab. Banggai telah mengantarkan PT Pertamina EP Donggi Matindok Field meraih penghargaan tertinggi dalam forum inovasi internasional di China pada 24 Agustus 2025
Dalam 11th International Exhibition of Inventions di Guangzhou, China, Innovasi PEP Donggi Matindok Field berjudul Biotechnological Advances in Organic Fertilizers Utilizing Biosulfur Side Products for Sustainable Agriculture meraih kategori Grand Prize, yang merupakan penghargaan tertinggi dalam ajang tersebut dan membawa nama baik Indonesia dan Pertamina dalam ajang dunia.

“PEP Donggi Matindok Field menjalanan tugas mendukung ketersediaan energi khususnya sebagai pendukung sentra industri di Sulawesi Tengah. Dalam memenuhi tugas tersebut, kami berupaya mewujudkan keberlanjutan lingkungan dan bermanfaat untuk masyarakat khususnya di sekitar wilayah operasi. Melalui inovasi ini, kami bertanggungjawab terhadap produk samping operasi yang kami hasilkan dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertanian di desa ring satu, dan hal ini menjadi kunci dari kesuksesan tim dalam membawa innovasi ini mendapatkan penghargaan tertinggi di ajang IEI 2025,” ujar Andry, GM Zona 13 di sela 11th International Exhibition of Inventions di Guangzhou, China.

PEP Donggi Matindok Field Raih Penghargaan Tertinggi di Forum Inovasi Internasional di China

Tim yang bergabung dalam inovasi tersebut adalah Andry, General Manager zona 13, Aristo Joeristanto, Sr Manager Prod & Project, Ridwan Kiay Demak, Field Manager Donggi Matindok, Reza Pahlepy, Ast. Manager Production, Firmansyahrullah, RAM Ast. Manager, dengan anggota Muchammad Sibro Mulis,Arief Partayudha, Nixon Poltak Frederic, Kus Junianto dan Rani Utari Ayuningtyas.

Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, merupakan salah satu kabupaten yang memiliki potensi pertanian yang signifikan, namun belum dikelola secara optimal.

Desa Kayowa di Kecamatan Batui, yang 70% wilayahnya berupa lahan pertanian, menghadapi tantangan utama berupa mahalnya pupuk kimia, distribusi yang tidak merata, dan ketergantungan tinggi pada pupuk kimia yang berisiko terhadap kesuburan tanah dan lingkungan.

PEP DMF menginisiasi program Integrated Agriculture Bioferdom dengan memanfaatkan produk samping biosulfur slurry dari kegiatan produksi diolah dan dioptimalkan menjadi pupuk organik pertanian yang memalui proses bioteknologi ramah lingkungan.

Pada tahun 2024, selain diimplementasikan dalam pertanian padi, Pupuk Bioferdom mulai dikembangkan ke pertanian jagung kerjasama dengan Kelompok Tani Kasawo Jaya.

Saat ini, seluas 30 Ha lahan masyarakat khususnya di Desa Kayowa Kecamatan Batui telah menggunakan pupuk bioferdom.

Program ini telah memberikan dampak positif dalam bidang lingkungan, sosial, ekonomi, dan kesejahteraan.

Dalam bidang lingkungan, program ini turut mengurangi timbulan biosulfur sebesar 127,6 ton/ tahun untuk lahan pertanian jagung dan padi, meningkatkan produktivitas pertanian sebesar 57%.

Secara ekonomi, pemanfaatan pupuk bioferdom memberikan efisiensi biaya pertanian sebesar Rp4.080.000/orang/musim dan peningkatan nilai jual hasil pertanian sebesar Rp18.144.000/Ha/musim.

Secara sosial dan kesejahteraan, program ini memberdayakan 25 petani yang ada dikayowa dan mendorong kemandirian pupuk.

“Selain mengatasi kelangkaan pupuk, Bioferdom mendukung keberlanjutan pertanian dan berkontribusi pada pencapaian agenda internasional SDGs khususnya Tujuan 8 (Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi), Tujuan 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab, Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan Tujuan 15 (Ekosistem Daratan),” tutur Ridwan Kiay Demak.

Salah satu kegiatan dalam program Bioferdom adalah peningkatan kompetensi dan pengetahuan petani melalui Sekolah Lapang Pertanian Mosa’angu yang dalam bahasa lokal (Saluan) berarti berkumpul atau bersatu. Kegiatan tersebut bermitra dengan Sircular Center Indonesia (SCI).

Jagung merupakan komoditas pertanian yang penting yang berfungsi sebagai sumber karbohidrat kedua setelah beras di Indonesia dan juga digunakan sebagai pakan ternak dan bahan baku industri.

Jagung memiliki banyak produk turunan dan potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai komoditas masa depan.

“Petani selama ini menjalankan profesinya secara turun temurun dan menggunakan naluri. Sedangkan saat ini perubahan cuaca dan juga penurunan kualitas lingkungan yang menimbulkan berbagai masalah pertanian terkait dengan juga membutuhkan pengetahuan formal. Saya sangat bersyukur petani kami bisa mendapatkan ilmu untuk bertahan dan bahkan mampu produktif di tengah berbagai permasalahan yang ada,” tutur Kades Kayowa Ali Dg Marowa.

Ridwan Kiay Demak menambahkan metode pembelajaran non-formal di bidang pertanian yang dilakukan di lapangan merupakan komitmen perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan petani terutama di wilayah ring satu.

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani agar dapat mengelola usaha tani mereka secara lebih efektif dan berkelanjutan. Implementasinya di Indonesia melibatkan berbagai program dan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” tutur Ridwan.

Tenaga Pendamping SCI Muh. Syair yang menjadi pengajar sekolah lapang mengatakan ini merupakan langkah awal yang dilakukan untuk peningkatan pengetahuan petani.

Memang diakui, tantangan yang dihadapi adalah komitmen petani untuk menyediakan waktu hadir karena jauhnya akses lokasi lahan.

“Petani bukan sekedar profesi tapi juga penyangga kehidupan. Melalui pendampingan ini, kita tidak hanya menabur ilmu tapi juga sebuah harapan untuk perubahan. Untuk itu, kami berkomitmen melanjutkan Sekolah Lapang baik di lokasi formal seperti di kantor desa ini ataupun harus mendekat ke lokasi lahan petani supaya semakin banyak petani yang dapat merasakan manfaat dari program ini,” ujarnya. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *