Briptu Jumardi Terbukti Rampas dan Hapus Isi Rekaman Kamera Wartawan TVRI

oleh -

Putusan Penundaan Kenaikan Pangkat dan Mengikuti Pendidikan Selama Satu Periode

KABAR LUWUK, PALU – Sidang kasus dugaan pelanggaran disiplin berupa perampasan kamera handycam merek sony milik wartawan TVRI Sulteng Rian Saputra dengan terperiksa Briptu Jumardi alias Cuka anggota Satreskim Polres Palu, Rabu (15/1) digelar, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, pembacaan tuntutan dan putusan.

Pimpinan sidang Kompol A. Azis pada sidang itu memberikan putusan berupa hukuman demosi, penundaan kenaikan pangkat satu priode dan penundaan mengikuti pendidikan selama satu periode.

Pada sidang itu, penuntut IPDA Maskuri menuntut perbuatan terperiksa dengan hukuman berupa mutasi bersifat demosi, penundaan kenaikan pangkat dua periode dan penundaan mengikuti pendidikan selama dua periode. Tuntutan itu dua kali lebih tinggi dari putusan yang dibacakan pimpinan sidang.

Lima orang saksi pada sidang itu dihadirkan, yakni Rian Saputra, Jamal, Rifaldi, Moh Qadri, Gabdika dan dua orang polisi yang pada keterangannya membenarka telah terjadi perampasan kamera handycam merek sonny, milik wartawan TVRI Sulteng dalam aksi demonstrasi mahasiswa pada Rabu 25 September 2019, di Jalan Raden Saleh, Kota Palu. Padahal pada saat itu Rian telah menjelaskan kepada terperiksa bahwa dirinya tengah menjalankan tugas jurnalistik.

Persidangan sempat diskorsing oleh pimpinan sidang untuk bermusyawarah mengambil putusan. Atas putusan itu, Briptu Jumardi menyatakan menerima putusan yang dibacakan pimpinan sidang.

Usai peridangan, Wakpolres Palu Kompol A. Azis yang dimintai keterangannya menyatakan bahwa perbuatan terperiksa terbukti melakukan perampasan kamera dan menghapus file yang ada didalamnya. Olehnya itu kepada terperiksa dijatuhi hukuman seperti yang telah dibacakan.

“Terbukti perbuatan terperiksa melakukan pelanggaran sebagaimana yang dibacakan penuntut. Hukumannya lebih rendah dari tuntutan karena pertimbangan bahwa terperiksa mengakui dan menyesali perbuatannya demikian juga antara terperiksa dan pelapor telah saling memaafkan,” terang Kompol A. Azis kepada sejumlah wartawan.

Kompol A. Azis menambahkan bawa perbuatan terperiksa telah mencoreng kemitraan antara Polri dan insan pers. Padahal wartawan adalah mitra Polri yang harusnya hubungan baik itu tetap dijaga dalam kode etik masing-masing institusi.

Rian Saputra korban dan pelapor dalam kasus itu, usai persidangan mengatakan telah mendengarkan putusan itu. Dengan adanya putusan itu dirinya menerima. Pada intinya kata Rian bahwa terperiksa telah terbukti bersalah melakukan perbuatannya. (IkB)