YSTC dan AJI Gelar Jurnalis Workshoop “Perlindungan Anak”

oleh -

KABAR LUWUK, PALU – Pasca satu tahun gempa, tsunami dan likuefaksi melanda Kota Palu, kabupaten Sigi , Donggala dan Kabupaten Sigi , Provinsi Sulawesi Tengah memberi banyak pengalaman dan pengetahuan tentang pentingnya mitigasi bencana. Adanya mitigasi bencana yang baik akan lebih menimalisir dampak ditimbulkan baik kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa.

Terkait hal tersebut Yayasan Sayang Tunas Cilik atau Save the Children (STC) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu menggelar jurnalis workshoop bertajuk “perlindungan anak” di Swis Bell hotel selama tiga hari, yang dimulai pada Rabu (16/10) sampai Jumat (18/10). Kegiatan itu diikuti sekitar 25 jurnalis.

Spesialis Perlindungan dan Keamanan Anak Save the Children, Bonefasius Juleman pada kegiatan itu mengatakan, ada lima jenis bentuk-bentuk kekerasan pada anak yaitu kekerasan fisik, kekerasan emosional, pelecehan seksual, penelantaran dan eksploitasi anak.

” Salah satu atau sebagian kekerasan pada anak ini sering kita jumpai bahkan kita lakukan di rumah tanpa kita sadari,” katanya.

Dia mengatakan, ada tiga kunci dapat membentuk karakter positif anak, membiasakan diri mengucapkan kata “maaf”, “terima kasih” dan “minta tolong” pada anak. Ia menambahkan, apapun jenis perlakuan kita terhadap anak hari ini sangat menentukan masa depannya. Olehnya, perilaku-perilaku yang menjurus pada kekerasan anak harus dihindari mulai sekarang.

Baca Juga  Jaga Kehandalan Operasi, DSLNG Laksanakan Vaksinasi Kedua

Dalam workshoop tersebut terjadi diskusi dan berbagi pengalaman dari jurnalis berbagai media dalam peliputan bencana dan menghasilkan beberapa poin penting salah satunya membuat buku yang akan menjadi pedoman standar operasional prosedur (SOP) bagi jurnalis saat meliput daerah bencana sesuai dengan karakteristik daerah setempat.

Seperti disampaikan Ahmad Arif jurnalis Kompas yang telah meliput diberbagai daerah bencana di Indonesia, katanya bukan gempa bumi dan tsunami yang membunuh tapi ketidaktahuan dan sikap tidak peduli kita. Ia mengatakan, sebagian daerah yang dilanda bencana dulunya tidak pernah menjadi permukiman penduduk dan biasanya akan dihuni pendatang. Olehnya para jurnalis dapat melihat dan menuliskannya sebagai pelajaran dan ilmu pengetahuan  bagi generasi masa akan datang.

“ Akan jauh lebih baik jika pengalaman jurnalis dalam meliput bencana baik sebagai  jurnalis maupun sebagai penyintas dituangkan kedalam buku,” katanya.

Baca Juga  Polres Palu Amankan Enam Terduga Penyalagunaan Narkoba, Dua Diantaranya Pasutri Sebagai Bandar Sabu

Save The Children United Kingdom (SCUK) Mervyn mengatakan, dalam keadaan darurat bencana seorang jurnalis harus memastikan diri dan keluarganya aman dan sehat, barulahlah melaksanakan tugasnya sebagai seorang jurnalis.

“Menjaga diri sendiri itu penting, tapi banyak orang mengabaikannya,”katanya.

Maka dari itu kata dia, kita harus punya rencana dan mempersiapkan narasumber mulai dari sekarang. Guna memastikan bahwa diri kita siap bila peristiwa bencana itu berulang kembali.

Dia mengatakan, beberapa pada jam pertama terjadi bencana, kita bisa mencari dan berbagi informasi sesama jurnalis guna diberitakan. Mervyn menambahkan, jurnalis sudah harus tahu cerita apa yang dicari ketika bencana terjadi. Ini yang dikatakan jurnalis saksi langsung yang berdasarkan fakta dan bukti. Untuk mencari informasi detail ketika bencana terjadi akan sulit bila tidak melewati tahap-tahap tersebut.

Mervyn menceritakan, ketika bencana terjadi pertanyaan-pertanyaan diajukan jurnalis diantaranya dimana tempat perlindungan, air bersih, makanan, siapa yang berwenang, bagaimana sekolah.

Selain itu kata dia, kita harus bertanya pada organisasi seperti STC apa yang semua orang harus lakukan dan anak-anak guna menyelamatkan diri lebih dulu.

Baca Juga  Gubernur Sulteng Canangkan Penyaluran Kredit

Senior Humanitarian Advocacy Manager STC Rinsan Tobing, mengatakan, kalau mau belajar bencana, tidak hanya sekadar pengetahuan dalam konteks memahami definisinya, tapi bagaimana melakukan tindakannya dan bisa menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri.

“Bencana dan segala aspeknya bisa menjadi bagian dari kehidupan seorang jurnalis,”katanya.

Dia mengatakan ada tiga hal bisa menjadi kunci  kita memahami harus berlaku pada kebencanaan, kebencanaan adalah urusan setiap orang, kebencanaan adalah masalah sosial dan alam adalah mahluk hidup.

Communication dan Advocacy Manager Save The Children Dewi Sri Sumanah mengatakan , selain menghasilkan output dari diskusi berupa panduan bagi jurnalis lokal dan luar.

Dia mengatakan, perlu kolaborasi media dalam  mengangkat satu isu kebencanaan misalnya bukan hanya tentang infrastruktur saja diangkat, tapi ada isu anak, perempuan, disabilitas, trauma healing saat bencana dan lain sebagainya.

” Satu pedoman dimiliki AJI dan bisa dibagi-bagi ke jurnalis lainya,” ujarnya. (Ikram)