PKBI-JMK-Oxfam Dorong Lahirnya Para Wirausaha Sanitasi

oleh -

KABAR LUWUK, PALU – “Saatnya kita menjadi Wirausaha Sanitasi” tegas Haris Oematan selaku Program Manager PKBI-JMK-Oxfam di hadapan peserta Workshop Tindak Lanjut dan Rencana Aksi untuk Sanitasi dan Air Bersih. Kegiatan diikuti oleh lebih kurang 25 peserta dari 7 Desa model dampingan Proyek Masa Pemulihan Bencana, Gempa Bumi, Tsunami Di Sulawesi Tengah. “Wirausaha Sanitasi bermaksud mengajak kita untuk memastikan indikator dan tujuan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) tercapai terutama yang berkaitan dengan stop buang air besar sembarangan dan semua orang punya jamban” lanjut Haris.

Terdapat 3 hal penting yang disampaikan oleh Haris mewakili Lead Program PKBI-JMK-Oxfam. Pertama, dalam konteks kejadian bencana bahwa jamban adalah hal yang paling penting harus disiapkan disamping kebutuhan utama lainnya.

Ketersediaan jamban akan sangat mendukung upaya menghindari korban bencana terutama berkaitan dengan kenyamanan maupun kesehatan. Kedua, kebutuhan air dalam situasi bencana menjadi penting, namun tetap masih dalam kondisi tidak lengkap jika tidak diikuti oleh ketersediaan jamban. Ketiga, jamban menjadi salah satu model wirausaha yang harus dikembangankan. Karena saat ini, mindset pembangunan rumah sudah mulai memikirkan bagaimana jamban yang nyaman disamping ruang tidur atau ruang tamu. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa ketika Buang Air Besar (BAB) orang terkadang butuh situasi yang nyaman sehingga bisa betah di kamar mandi. Hal itu bisa terjadi  jika jamban dikelola dengan baik dan benar serta sehat.

Baca Juga  Jaga Kamtibmas Pilkada Banggai, TNI-Polri Rutin Patroli Skala Besar

Sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian desa berkaitan dengan sanitasi, agenda workshop ini melibatkan komponen kunci dari 7 desa dampingan yaitu tukang/kepala tukang yang fokus pada teknis pembuatan, Sanitarian Puskesmas serta fasilitator PAMSIMAS Kabupaten Sigi dan Donggala serta Kota Palu. Workshop selama 2 hari yang dibuka tanggal 15 September 2020 akan berlangsung selama 2 hari. Terdiri dari diskusi ruangan selama 1 hari dan dilanjutkan dengan praktek produksi jamban yang sehat di hari kedua.

Menurut penanggungjawab kegiatan, Ifon bahwa workshop ini dirancang untuk mencapai 3 tujuan yaitu pertama mendorong mengembangkan sanitasi yang mandiri dan berkelanjutan untuk mendukung komponen supply STBM dalam menciptakan akses masyarakat miskin ke jamban yang sehat. Ifon yang berposisi sebagai PHP Officer (Public Health Promotion) menjelaskan bahwa ini menjadi salah satu mandat utama JMK. Tujuan kedua adalah memberikan kemampuan peserta dalam memanfaatkan peluang pasar sanitasi yang berkelanjutan terutama dalam pengembangan produk dan layanan sanitasi yang diinginkan pasar khususnya masyarakat miskin pedesaan. Sedangkan tujuan ketiga adalah menumbuhkan jiwa wirausaha sanitasi agar mampu menjawab peluang dan tantangan yang mungkin akan dihadapi.

Baca Juga  Lantik Relawan AT-FM di Kintom, Amir Tamoreka Ajak Seluruh Pendukungnya Berpolitik Santun

Seperti disampaikan oleh Haris sebelumnya, menghadirkan  tukang/kepala tukang bersama dengan para sanitarian Puskesmas adalah untuk membangun komunikasi bahwa jamban yang harus dibuat berkualitas tapi memenuhi kaedah kesehatan. Harapannya dengan memproduksi jamban murah tapi sehat, mindset masyarakat terutama masyarakat miskin bahwa jamban itu adalah beban bisa berubah. Jamban wajib dimilki setiap keluarga, mudah diakses terutama dalam aspek biaya. Dan para tukang/ kepala tukang sudah harus menjadikan ini sebagai lahan bisnis sosial. Menguntungkan tapi juga memudahkan orang miskin.

Program Masa Pemulihan Bencana, Gempa Bumi, Tsunami Di Sulawesi Tengah yang dilaksanakan oleh PKBI-JMK-Oxfam melalui suatu konsorsium 15 lembaga anggota JMK telah berjalan hampir 1 tahun. Program ini merupakan kelanjutan dari respon tanggap darurat yang di kelola oleh JMK dan Oxfam pasca bencana Gempa Tsunami dan Liquifaksi (Oktober 2018 – April 2019). Berlanjut dengan respon Fase 2 yang dikelola oleh LBH APIK Sulteng-JMK-Oxfam selama 6 bulan dan saat ini fokus pada isu pemulihan melalui manajemen program PKBI-JMK-Oxfam.

Baca Juga  Lolos Prakualifikasi Zona III Atlet FPTI Sulteng Asal Banggai Bakal Berkiprah di PON Papua Tahun 2021

JMK sendiri merupakan jejaring nasional kemanusiaan yang beranggotakan 23 NGO se Indonesia dan dikelola melalui suatu manajemen jejaring yang terdiri dari JEMARI Sakato Sumatera Barat selaku kordinator Jejaring, CIS Timor NTT selaku kordinator Pilar Humanitarian, SUAR Indonesia Kediri kordinator Pilar advokasi serta PKBI Sulsel selaku kordinator Pilar keberlanjutan dan penguatan kapasitas. (Rls)