Perpusnas Gelar Pelatihan PLM Perpustakaan Desa di Palu

oleh -

KABAR LUWUK, PALU – Upaya memperluas wawasan dan pengetahuan masyarakat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa terus dilakukan Perpustakaan Nasional menyelenggarakan kegiatan Pertemuan Belajar Sebaya atau Peer Learning Meeting (PLM) menghadirkan sejumlah pengelola perpustakaan desa di Sulteng. Kegiatan yang diselenggarakan selama tiga hari di salah satu hotel di Kota Palu itu dibuka langsung oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tengah H Ardiansyah. L. Spd. Msi.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Karsipan Kabupaten Banjar H Ardiansyah. L. Spd. Msi menjelaskan, kegiatan peer learning meeting merupakan sebagai sarana saling belajar bagi perpustakaan desa untuk mengembangkan perpustakaan menjadi pusat belajar masyarakat berbasis teknologi, informasi dan komunikasi. Ardiansyah menambahkan saat ini perpustakaan telah berbasis inklusi sosial dimana perpustakaan tidak hanya tempat membaca namun memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya.

Selain itu kegiatan yang dihadiri oleh perwakilan Kabupaten Donggala, Sigi, Banggai dan Kota Palu bertujuan sebagai tempat memperoleh informasi dan tambahan wawasan dari para narasumber tentang pengelolaan perpustakaan, juga bisa saling bertukar pengalaman dengan peserta lainnya.

Dijelaskan Ardiansyah, peer learning meeting dengan tema transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial literasi untuk kesejahteraan merupakan pilot proyek program nasional Perpusnas. Hal ini merupakan pengembangan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Baca Juga  Satu Pegawai Dinas Perdagangan Kabupaten Banggai Positif Covid 19

“Maksudnya perpustakaan melakukan program transformasi dari dulu hanya sebagai tempat membaca dan menyimpan buku tapi sekarang perpustakaan harus mentransformasi bukan menunggu lagi orang datang keperpustakaan tetapi dia membawa perpustakaan ke desa – desa,” ungkapnya.

Perpustakaan terus berupaya mendekatkan masyarakat desa untuk bisa menyentuh perpustakaan. Nantinya perpustakaan kata Adriansyah bukan hanya menyiapkan buku tetapi dia menjadikan pusat pendidikan, pusat latihan, pusat kebudayaan, pusat informasi dan pusat rekreasi.

“Jadi perpustakaan harus dibuat seperti itu sehingga semua orang butuh dengan informasi dia akan keperpustakaan, butuh dengan keterampilan dia akan ke perpustakaan maka perpustakaan itu memperkaya dirinya bukan hanya dengan buku tapi ada juga pendampingan, ada juga tenaga penyuluh dengan kemampuan informasi.  Apalagi dengan era digital sekarang ini penyuluh dan perpustakaan harus memperkaya diri dengan informasi itu sehingga semua masyarakat desa selalu tidak pernah ketinggalan informasi dan selalu informasi yang sampai pada mereka akurat bukan hoax,” tambahnya.

Metode atau perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan transformasi yang dilakukan oleh perpustakaan hingga modelnya seperti sekarang dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Kurang cerdasnya kehidupan kita kata Ardiansyah karena literasi kita yang masih rendah juga keterampilan yang masih rendah. Bila keterampilan dan literasi tinggi maka bisa memanfaatkan segala sumber daya alam yang ada maka pada akhirnya masyarakat bisa sejahtera.

Baca Juga  Warga dan Pemuda Maahas Menolak Tempat Isolasi Penderita Covid 19, Begini Alasan Warga.

Narasumber Perpustakaan Nasional Helen Manurung pada kegiatan itu menyampaikan, kegiatan ini sebenarnya ditujukan untuk masyarakat sehingga lebih mendekatkan masyarakat ke perpustakaan. Perpustakaan itu kata Helen, bukan hanya sebatas sekedar baca buku tapi pelibatan masyarakat, tentunya dengan pelibatan itu perpustakaan diharapkan bisa bekerjasama dengan masyarakat apa yang dibutuhkan masyarakat.

“Misalnya disini masyarakat nelayan mereka butuh apa misalnya buku buku untuk mengolah hasil laut, jadi seperti itu pelibatan masyarakatlah intinya dari inklusi sosial ini. Secara teknis bentuk kegiatannya, para master master berkumpul dan menyampaikan apa tujuannya diperpustakaan masing-masing, apa yang akan mereka hidupkan diperpustakaannya untuk pelibatan masyarakat ini,” Ujar Helen.

Pustakawan Ahli Muda ini menambahkan, harapan dari Perpusnas dengan adanya kegiatan ini outputnya atau hasil keluarnya adalah produk yang bisa didapatkan masyarakat dengan memanfaatkan perpustakaan. Helen mencontohkan,  di Tanjung Pinang ada warga disana bernama Wansamsi yang selalu menfaatkan perpustakaan, karena di Tanjung Pinang itu hasil lautnya banyak bahkan melimpah maka dari situ Wansamsi melihat ada satu yang bisa dimanfaatkan yang bernilai ekonomi tinggi. Wansamsi yang telah membaca banyak literasi, kemudian membuat usaha yang namanya “luti gendang”, yang isinya ikan asap. Olehnya itul produknya merupakan hasil perpustakaan berbasis inklusi sosial karena semua berawal dari seringnya Wansamsi membaca buku. Produk itu sekarang kata Helen sudah di jual kemana mana dan seperti itulah hasil yang di harapkan melalui kegiatan ini.

Baca Juga  Gubernur Sulteng Meminta BPR Ikut Peran Dalam Meningkatkan Perekonomian Dalam Penyaluran Kredit UMKM

“Perpustakaan yang buruk hanya membangun koleksi, perpustakaan yang bagus membangun layanan, perpustakaan yang hebat membangun komunita,” ucap Helen disambut tepuk tangah para peserta.

Secara garis besar ada tiga tujuan digelarnya kegiatan itu, pertama yakni memafasilitasi proses saling belajar dan berbagi pengalaman antar perpustakaan. Memotivasi dan membangun kepercayaan diri peserta untuk terus melaksanakan rencana kerja transformasi perpustakaan kabupaten maupun desa. Serta memperkuat proses mentoring dan monitoring perpustakaan kabupaten dan desa. (IkB)