Oscar “Memotret di Lokasi Bencana Harus Beretika”

oleh -

KABAR LUWUK, PALU – Tidak mudah memotret di lokasi bencana. Perlu persiapan matang dan yang terpenting harus selalu mengedepankan etika. Hal itu disampaikan Kepala Divisi Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara, Oscar Motuloh, saat menjadi narasumber dalam Diskusi Fotografi, Jumat (27/9) kemarin di Baruga Lapangan Vatulemo.

Kegiatan diskusi yang merupakan rangkaian Pameran Foto yang digagas Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu bersama LKBN Antara Biro Sulteng ini, mengangkat tema “Memotret di Lokasi Bencana”. Oscar yang berpengalaman meliput dan mengabadikan berbagai momen bencana di Indonesia ini, turut membagikan pengalamannya itu kepada para peserta diskusi. Peserta diskusi fotografi ini, terdiri dari berbagai kalangan, seperti komunitas pencinta fotografi, mahasiswa dan wartawan yang ada di Kota Palu.


Diskusi yang dipandu Fotografer Antara Sulteng, Basri Marzuki itu, berlangsung santai namun mudah dipahami peserta. Oscar menyebutkan, dalam segi pengambilan gambar di lokasi bencana, para fotografer sebisa mungkin untuk tidak memotret wajah jenazah korban bencana. Jika pun ingin menunjukkan jenazah, harus lah bagian-bagian tubuh tertentu seperti tangan dan kaki atau yang telah terbungkus dalam kantong jenazah. “Memotret di lokasi bencana harus punya etika dan rasa simpati. Karena jangan sampai lewat foto kita itu, keluarga dari korban setelah melihat malah mengembalikan luka mereka lagi. Itu yang harus dihindari,” terang Oscar.
Fotografer yang baru dianugerahi gelar Empu Ageng dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini juga mengakui, dia dan sejumlah fotografer nasional di beberapa kejadian bencana ikut ambil bagian meringankan beban para korban dengan menggalang dana lewat penjualan buku foto. “Sejak tsunami di Aceh 2006 silam, saya dan beberapa rekan sudah buat buku dan buku foto di Lombok dan Palu ini, buku kelima kami,” sebut Oscar.

Baca Juga  Bentuk Perhatian Kasatlantas Polres Bangkep Sambangi Anggotanya


Buku yang dibuat pun, juga menceritakan dari pertama bencana terjadi hingga pada akhirnya ada penggambaran harapan dan kebangkitan masyarakat pascabencana. Dia juga mengaku, dalam buku foto ini, juga diselipkan pesan agar masyarakat di suatu daerah rawan bencana, selalu memiliki pengetahuan mitigasi bencana. “Kita hidup di atas tanah yang rawan gempa, jangan takut. Masyarakat jepang dan korea juga demikian. Namun bagaimana mitigasi bencana masyarakat itu harus terus kita tumbuhkan, untuk mengorangi risiko jatuhnya korban lebih banyak,” jelasnya. Antusias para peserta terlihat saat dibuka sesi tanya jawab. Baik mahasiswa maupun anggota komunitas fotografi silih berganti mengajukan pertanyaan. (IkB)