MOI Gelar Peletakan Batu Pertama AMLC Sebagai Pembangunan Pusat Pembelajaran Kelor di Palu

oleh -

KABAR LUWUK, BANGGAI – Upaya membagi dan berbagi ilmu pengetahuan tentang bagaimana mengolah tanaman kelor untuk kesehatan sebagai bagian dari meningkatkan kesejahteraan masyarakat menjadi perhatian Moringa Organik Indonesia (MOI).  Salah satunya dengan dibangunnya pusat pembelajaran proses dan pengolahan kelor (moringa) yang terintegrasi  di Palu, Sulawesi Tengah yang diberi nama Asean Moringa Learning Center – Integrated Organic Moringa Farm & Processing atau disingkat AMLC.

Owner yang juga founder MOI, A Dudi Krisnadi kepada media ini mengatakan, AMLC adalah Sebuah tempat dimana bangsa Indonesia, dan bahkan bangsa-bangsa lain di dunia, dapat saling berbagi pengetahuan tentang bagaimana mengolah tanaman Kelor ini untuk Kesehatan (sumber asupan nutrisi harian yang mudah dan murah), Kesejahteraan (sumber pendapatan baru yang menguntungkan) dan Sumber Devisa Negara (komoditas export unggulan).

Besar harapan MOI , dengan adanya AMLC dapat mengangkat potensi Kelor Organik Indonesia bagi sebesar-besarnya kemakmuran bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para Keloris dan petani pengolah Kelor dimanapun berada, dapat dengan mudah menerapkan SOP MOI dan menjual hasilnya kepada MOI dengan pola pendekatan Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh.

“Khusus bagi masyarakat Sulawesi Tengah, keberadaan AMLC akan melibatkan lebih dari 200 ribu petani pengolah tanaman Kelor, dengan pola kerja sama “ sehat dan sejahtera dengan bekerja di rumah”. Hal ini dimungkinkan karena kearifan salah seorang tokoh pengusaha yang sangat peduli terhadap kesejahteraan dan perikehidupan petani Sulawesi Tengah. Hal-hal teknis mengenai kerja sama antara kami dengan para petani pengolah Kelor, akan disampaikan khusus pada saatnya, bertepatan dengan peresmian beroperasinya nanti,” kata A Dudi Krisnadi.

Baca Juga  Puluhan Warga di Toili Terjaring Ops Yustisi, Sanksi Pungut Sampah di Sekitar Jalan

AMLC ini tambah A Dudi Krisnandi nantinya akan menjadi pusat pembelajaran para keloris dan petani pengolah kelor mulai dari pembibitan sampai pengembasan prodak. Dan ini terbesar se asean, bahkan AMLC seperti ini belum ada di Dunia. Tujuannya bagaimana anugerah tuhan bisa dimanfaatkan sebagai sumber peningkatan kesehatan dan juga peningkatan ekonomi bagian dari recovery ekonomi masyarakat.

“AMLC ini inshaAllah menjadi pusat bagian penyelesaian masalah khususnya petani kelor, karena sebenarnya masalah itu bukan pada pemasaran tapi pada pengolahan, nah harapannya adanya AMLC ini dapat menjawab terkait permasalahan pengolahan itu tadi sehingga kendala pemasaran karena pengolahan yang salah tadi bisa teratasi,” tambah owner MOI ini.

Dijelaskan pula, selama ini mereka mensentralisasi melalui perkebunan dimana harus menyiapkan lahan, penamanan hingga perawatan yang dilakukan sendiri oleh perusahaan sebagai unit usaha. Sehingga kemudian terfikirkan untuk memindahkan unit pengolahannya di pindahkan ke masyarakat sebagai home industry. Nantinya masyarakat akan dipinjamkan peralatan pengolahan sehingga nantinya perusahaan (MOI) nantinya membeli hasil olahan masyarakat itu.

Baca Juga  Korban Meninggal Terbakar di Pagimana, Enggan Berpisah Lalu Bunuh Diri??

“Gagasan bapak Kapolres Parimo Andi Batara Purwacaraka kepada kami merupakan ide yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan, selama ini kita mensentralisasi semua usaha di perkebunan hingga pegolahnnya. Bedanya kini kita pindahkan unit pengolahan di masyarakat dengan cara kita ajarkan cara pengolahan bahkan meminjamkan peralatan pengolahan kepada warga dan hasilnya kita beli kembali. Syaratnya hanya jujur dan bekerja sesuai SOP MOI, sehingga tidak ada pertanyaan berapa luasan lahan perkebunan yang dimiliki MOI tapi seberapa besar dampak peningkatan ekonomi bagian dari recovery yang nantinya dinikmati masyarakat. Hitungan terkecil kami, masyarakat yang mengolah kelor dengan hanya bekerja dua jam saja akan mendapatkan penghasilan sekira seratus lima puluh ribu hingga dua ratus ribu,” tambah Dudi sapaan akrabnya.

Berdasarkan data media di India bahwa pasar Moringa oleifera global berjumlah sekitar € 363 juta atau sekitar Rp 5.8 Trilyun pada tahun 2016. Mereka memperkirakan pasar ini mencapai € 626 juta atau sekitar Rp 10 Trilyun pada tahun 2020. India juga merupakan pemasok utama Moringa oleifera di Eropa. Ekspor Moringa oleifera negara tersebut dilaporkan tumbuh sebesar 26-30% per tahun. Dari Januari 2014 sampai Oktober 2016, India mengekspor lebih dari 16.000 ton Moringa oleifera. Sebagian besar ekspor India diperdagangkan dengan Amerika Serikat (sumber: Zauba.com).

Baca Juga  Puluhan Personel Polres Banggai Amankan Pelipatan Surat Suara Pilkada 2020

Potensi pangsa pasar agri kreatif kelor  berupa Suplemen gizi, pasar global senilai $ 93 miliar di tahun 2015, Makanan ringan, industri senilai $ 374 miliar di seluruh dunia, Minuman, industri teh global saja dihargai $ 15,4 miliar. Perawatan pribadi organik, sebuah pasar diperkirakan mencapai $ 16 miliar di seluruh dunia pada tahun 2020. Total senilai lebih dari 1.200 Trilyun per tahun.

Kelor di Indonesia, terutama di Pulau Sulawesi, telah tumbuh sejalan dengan peradaban dan perjalanan sejarah kehidupan masyarakatnya, sebagai sebuah kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun. Bahkan, kami meyakini bahwa sesungguhnya tanaman yang dikenal dengan nama latin Moringa oleifera ini berasal dari Sulawesi, bukan dari Himalaya India. Banyak bukti sejarah masa lampau yang dapat ditelusuri sejak zaman Sundaland, ketika Kalimantan, Jawa dan Sumatra masih bersatu dan kemudian terpisah, Pulau Sulawesi telah dan masih ada seperti bentuknya semula.

Sayangnya, anugerah ini kemudian terlupakan karena perjalanan sejarah kehidupan Nusantara. Oleh karena itu, MOI merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mendistribusikan pengetahuan kami tentang Metode Pengunci Nutrisi Tanaman Kelor tersebut dengan mendirikan AMLC di Palu, Sulawesi Tengah. Peletakan batu pertama pembagunan AMLC pada Jumat (30/10/2020) itu dilakukan secara sederhana. (IkB)