Landscape Budaya Lore Lindu, Menanti Keberpihakan Gubernur Terpilih

oleh -

Penulis     : Amanda

KABAR LUWUK, POSO – Paradigma pembangunan sejak jaman jadul, jarang menempatkan kebudayaan sebagai point penting pembangunan. Tak hanya di level negara. Di daerah, kebudayaan tak mendapat porsi yang memadai dalam keputusan kunci para pemegang kuasa. Di ruang parlemen dan eksekutif kebudayaan tak mendapat porsi yang memadai dalam konteks politik anggaran. Porsi terbesar masih ditempati, ekonomi, hukum dan politik. Isu-isu kebudayaan hanya menjadi concern kelompok civil society dan komunitas-komunitas kecil di ruang-ruang kecil. Itupun sebatas diskusi dan sesekali aksi nyata di lapangan.

Tema budaya hanya terangkat – saat momen politik pilkada. Dieksploitasi sedemikian rupa untuk mengerek elektabilitas sang tokoh. Pada momentum tertentu tokoh-tokoh budaya dimobilisasi sebagai pemadam kebakaran saat konflik komunal meletus. Setelah itu kembali dilupakan. Demikian seterusnya.

Cerita tentang bagaimana pembangunan kebudayaan cenderung tidak mendapat prioritas dibanding ekonomi dan politik, setidaknya terekam dari kegundahan para pemerhati kebudayaan, arkeolog dan pegiat kebudayaan di daerah ini. Saat kemah budaya yang digelar Komunitas Baku Bantu 19 – 21 Maret 2021, aspirasi ini kembali mencuat.

BOLA DI TANGAN PEMDA

Sudah setahun lebih dokumen penting itu merana. Tersimpan rapi di rak file Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Dokumen penting itu merinci detail tentang apa yang mesti dilakukan pemerintah daerah. Demi terwujudnya kawasan TNLL sebagai warisan UNESCO. Proposal bertajuk Landscape Budaya Lore Lindu tersebut, mendesak mendapat pengakuan dari badan dunia itu. Dengan cara itu, sumber daya yang tersimpan di alam Bumi Behoa itu bisa terjaga. Namun sekali lagi, itu belum terjadi. Surat dari Kemendikbud RI dengan nomor: 2734/EG-2/tu/2019 tertanggal 17 September 2019, sudah mengendap setahun lebih. Tak jelas nasibnya.

Baca Juga  Bupati Banggai Hadiri Upacara Pelepasan Jenazah Wakapolres Banggai

Paradigma kebijakan yang masih memunggungi kebudayaan memang pantas dicemaskan. Setidaknya, itulah yang terekam di wajah Arkeolog Sulteng Iksam Djorimi, saat berbincang di Bantaya Loji Indonesia, Jalan Cemara – Palu Barat. Selasa 23 Maret 2021 lalu. Iksam dan kawan-kawannya sejak 2018 telah melakukan riset di tiga lembah, Besoa, Napu dan Bada untuk presentasi di depan delegasi UNESCO di Jakarta. Bagi Iksam, Landscape Budaya Lore Lindu, harus secepatnya diwujudkan sebagai warisan dunia. Untuk menjamin sumber daya di tiga lembah itu terus terjaga.

Surat dari Kemendikbud RI dengan nomor: 2734/EG-2/tu/2019 yang ditandatangani Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, mendiang Nadjamudin Ramly, merekomendasikan kepada Pemerintah Provinsi Sulteng, untuk membentuk tim kerja. Tim ini untuk koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah untuk mengumpulkan informasi, data dan penulisan naskah. Iksam melanjutkan, dari sisi kesejarahan, nilai budaya dan artefak yang tersimpan di bentangan alam ratusan ribu hektar itu telah melampaui situs-situs terkenal di dunia yang sudah lebih dulu mendapat status warisan dunia. Sebut misalnya Patung Moai di Taman Nasional Rapanui – Chili. ”Dari sisi kesejarahan, artefak kuno di Lore Lindu lebih tua,” lugas Iksam di kediamannya. Sejauh ini, bolanya di tangan Pemda.

Baca Juga  Polsek Nuhon Amankan Pelaku Penghinaan Almarhum Habib Saggaf Muhammad Aljufri

Seolah berpacu dengan waktu, status warisan dunia mendesak diupayakan. Tingginya nilai sejarah patung-patung yang berserakan di savanah dan hutan-hutan lebat di kawasan Lore Lindu, menggoda para kolektor berburu artefak mahal itu melalui jalur ilegal. Iksam mengakui sudah pernah terjadi pencurian situs walau akhirnya bisa dikembalikan. Namun demikian, Ketua Adat Besoa, Sandi Tolie mengakui patung-patung kecil yang banyak terdapat di kawasan itu sudah ada yang raib.

”Dari sisi ini, maka status warisan dunia menjadi penting dan mendesak,” ungkap Sekretaris Museum Sulteng itu, yang tak bisa menyembunyikan kecemasan akan munculnya kembali pencurian artefak bersejarah itu.

Tiga wilayah utama di Lore Lindu yang menjadi konsentrasi karya adiluhung nenek moyang itu, situs terbanyak berada di kawasan Lembah Bada dengan 35 situs. Mengutip dokumen Landscape Budaya Lore Lindu, 35 situs terdapat di dua kecamatan dan 12 desa. Bertebaran di kawasan seluas 50,093 hektar. Masih dari dokumen yang sama, kawasan Lembah Besoa menyimpan 32 situs. Sebaran situs situs itu, terdapat satu kecamatan dan lima desa. Dan tersebar di atas kawasan seluas 477. 163 hektar.

Sedangkan di Lembah Napu, diidentifikasi ada 29 situs. Tersebar di atas kawasan seluas 135,049 hektar. Situs-situs itu terdapat di empat kecamatan dan 11 desa. Ia memprediksi jumlah itu akan terus bertambah, seiring dengan eksplorasi yang terus dilakukan para arkeolog.

Baca Juga  Ketahanan Keluarga Berbasis Sumberdaya Pembangunan Desa

Ia menyesalkan, jika kebijakan pembangunan masih menempatkan sektor kebudayaan tidak lebih penting dari sektor lainnya. Gagalnya sebuah negara bangsa (nation state) ditentukan sejauhmana para elit mengelola kebudayaan sebagai instrumen penting sebuah bangsa. ”Budaya bisa membuat bangsa bersatu kuat. Bisa pula membuat tercerai berai,” ujarnya penuh semangat.

Iksam melanjutkan, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan dan China mampu mencapai level seperti saat ini, karena menempatkan sektor budaya sebagai instrumen penting. Budaya dan kebudayaan tak sekadar aksesoris di panggung seremonial. , Tapi bagaimana jiwa dan aksara kebudayaan masuk sebagai urat nadi bangsa.

Jika disadari banyak keuntungan bagi Sulawesi Tengah, jika Landscape Budaya Lore Lindu terwujud menjadi menjadi warisan UNESCO. Dari sisi ekonomi maupun dari sisi kebudayaannya itu sendiri.

Romy Hidayat Kepala Unit Pengembangan dan Pemanfaatan Cagar Budaya, menjelaskan dari sisi ekonomi sektor formal dan informal akan bergerak seiring dengan tingginya perhatian dunia pada kawasan sarat peninggalan kuno itu. Masyarakat setempat mendapat kentungan berlipat, karena ekonomi dipastikan akan bergerak dinamis. Dari aspek kebudayaannya, status warisan UNESCO makin memperkuat identitas sebagai negara bangsa. ”Sayang perspektif berfikir kita belum sampai kearah itu,” tutup Iksam. ***