Kongkor, Legenda Penyeberangan yang Masih Bertahan

oleh -

Laporan : Iskandar Djiada (Jurnalis Banggai)

KABAR LUWUK, BANGGAI – Tak ada yang tahu pasti, sejak kapan alat penyeberangan berbentuk perahu gandeng beratap itu mulai digunakan warga sebagai alat transportasi umum menyeberangi laut antara Desa Bonebobakal dengan Desa Kotaraya, Kecamatan Lamala.

Begitupula dengan penggunaan nama Kongkor, sebagai nama moda transportasi laut itupun, tak ada yang bisa memastikan sejak kapan digunakan. Namun yang unik, nama Kongkor itu, mirip dengan nama pesawat terbang buatan Prancis, Concorde, yang kecepatannya hampir dua kali kecepatan suara atau lebih dari 2.000 km per jam, sementara kecepatan suara berada pada kisaran 1,238 km per jam.

Meski memiliki nama yang mirip, namun kecepatannya berbeda jauh. Untuk melintasi perairan antara Kotaraya-Bonebobakal yang berjarak sekira 1 km, perahu kongkor itu butuh waktu sekira 10 menit.  Namun bukan soal kecepatan itu yang menarik bagi penulis, sebab yang lebih menarik adalah daya tahan moda transportasi penyeberangan itu di tengah berkembangnya akses jalan dari Masama menuju Lamala.

Baca Juga  Berkas Lengkap, Polsek Toili Limpahkan Kasus Cabul

Dulu, saat kongkor menjadi begitu vital, kondisi jalan darat antara Masama menuju Bonebobakal memang rusak berat, dengan jarak yang jauh. Sebelum adanya jalan dari Masama-Lamala dengan melintasi Desa Bahari Makmur atau biasa dikenal dengan sebutan Panta Bebe yang berjarak 6 kilometer, jalan dari Tangeban, Masama menuju Bonebobakal Lamala harus memutar melewati Labotan dengan jarak sekira 18 kilometer.

Karena jarak Masama-Lamala yang jauh dengan kondisi jalan rusak dan melewati perbukitan, akhirnya perahu kongkor atau sebelumnya dikenal dengan sebutan perahu tambangan, menjadi alternatif bagi warga dari arah Masama menuju Bonebobakal dan sebaliknya, sebab bisa mempersingkat jarak dan waktu tempuh. Dan kini, dengan kondisi jalan darat yang sudah lebih dekat (sekira 6 kilometer) dan telah beraspal mulus, tak berarti menghapus keberadaan kongkor.

Baca Juga  Warga dan Pemuda Maahas Menolak Tempat Isolasi Penderita Covid 19, Begini Alasan Warga.

Menurut om Amba, salah satu pengelola perahu kongkor, saat ini masih ada empat unit kongkor yang beroperasi di perlintasan antara Kotaraya-Bonebobakal.

“Dengan empat kongkor yang masih bertahan, kami masih bisa memperoleh pendapatan yang lumayan. Paling minim, sehari dapat antara Rp150.000-Rp200.000,” tuturnya Minggu (19/1/2020).

Ia mengatakan, masih cukup banyak warga yang menggunakan jasa kongkor untuk melintasi laut antara Kotaraya-Bonebobakal, termasuk mereka yang membawa sepeda motor. Soal tarif angkutan penyeberangan, ia menyatakan cukup murah. Untuk orang dikenai tarif Rp2.000 per orang, sementara sepeda motor dikenai tarif Rp10.000 per unit. Sementara untuk anak sekolah, ia mengatakan tarifnya tidak tentu, sebab ada juga yang gratis.

“Kalau anak sekolah kami tidak tentukan, bisa bayar kalau punya uang, bisa juga tidak bayar kalau memang tidak punya uang. Intinya anak sekolah tetap harus kami angkut,” ujarnya.

Baca Juga  BNPT Gelar Bakti Sosial Untuk Korban Dan Keluarga Korban Terorisme Di Sigi dan Poso

Ia berharap, kongkor akan terus bertahan dan tetap digunakan warga yang melintas. Abdul, seorang warga yang menyeberang dengan sepeda motornya mengatakan, ia memilih melewati jalur laut, karena sekalian istirahat setelah berkendara dari arah Kecamatan Mantoh. Apalagi kata dia, pemandangannya juga indah, sehingga bisa segar lagi saat melanjutkan perjalanan menuju Luwuk.

“Yah naik kongkor itu asyik, sebab bisa istirahat di atas perahu sambil lihat pemandangan yang indah,” tuturnya.

Iapun berharap, alat penyeberangan itu tetap ada, karena selain membantu mempersingkat jarak tempuh, bisa jadi tempat istirahat sambil lihat pemandangan laut, juga menjadi keunikan perjalanan dari Luwuk-Lamala atau sebaliknya. ***