BanggaiKABAR DAERAH

DSLNG Ajak Generasi Muda Banggai Jadi Garda Terdepan Pelestarian Burung Maleo

×

DSLNG Ajak Generasi Muda Banggai Jadi Garda Terdepan Pelestarian Burung Maleo

Sebarkan artikel ini

KABAR LUWUK – Semangat menjaga warisan alam Sulawesi memenuhi aula Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah pada Selasa (28/7/2026).

Ratusan mahasiswa dari Unismuh Luwuk dan Universitas Tompotika Luwuk berkumpul dalam Kampanye dan Sosialisasi Burung Maleo sebagai Warisan Sulawesi untuk Indonesia dan Dunia, sebuah ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas, dan dunia usaha untuk memperkuat upaya pelestarian burung endemik Sulawesi tersebut.

Kegiatan yang diinisiasi PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah ini menjadi ajakan nyata agar generasi muda tidak hanya mengenal burung maleo (Macrocephalon maleo) sebagai satwa endemik khas Sulawesi, tetapi juga mengambil peran dalam menjaga kelestariannya.

DSLNG Ajak Generasi Muda Banggai Jadi Garda Terdepan Pelestarian Burung Maleo

Relations and Communication Senior Manager DSLNG, Aji Wihardandi, mengatakan pelestarian maleo merupakan tanggung jawab bersama yang hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi berbagai pihak.

“Maleo merupakan warisan alam yang sangat berharga bagi Sulawesi dan Indonesia. Menjaga maleo bukan hanya melindungi satu spesies, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan memastikan kekayaan hayati ini tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang,” ujarnya.

Sebagai perusahaan LNG yang tumbuh dan beroperasi di Kabupaten Banggai, kata Aji, DSLNG memandang keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari kinerja operasional, tetapi juga dari kontribusi nyata terhadap lingkungan dan masyarakat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kemitraan jangka panjang bersama BKSDA Sulawesi Tengah dalam berbagai program konservasi maleo, mulai dari perlindungan habitat, dukungan terhadap peningkatan populasi, edukasi kepada masyarakat, hingga penguatan kapasitas para pemangku kepentingan yang terlibat dalam upaya pelestarian satwa endemik Sulawesi itu.

DSLNG sendiri sejak 2012 telah mendirikan fasilitas Pusat Konservasi Maleo Eksitu pertama di area kilang DSLNG dan telah berhasil melepasliarkan 127 anakan maleo ke habitatnya.

DSLNG Ajak Generasi Muda Banggai Jadi Garda Terdepan Pelestarian Burung Maleo

“Kami berharap semakin banyak anak muda Banggai yang menjadi duta konservasi. Konservasi tidak hanya dilakukan di kawasan hutan, tetapi juga dapat dimulai dari ruang-ruang diskusi di kampus, penelitian mahasiswa, media sosial, hingga aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Apresiasi juga disampaikan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banggai melalui Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Fahrudin Lasadam, yang mengajak seluruh elemen masyarakat terus memperkuat kolaborasi dalam menjaga keanekaragaman hayati di Kabupaten Banggai.

Sementara itu, perwakilan BKSDA Sulawesi Tengah saat membuka kegiatan turut menyampaikan terima kasih kepada DSLNG atas dukungan dan komitmennya dalam mendukung berbagai program konservasi maleo yang telah berjalan selama ini.

Selain sesi pembukaan, peserta mendapatkan paparan mengenai status konservasi burung maleo di Sulawesi Tengah beserta tantangan yang dihadapi, mulai dari berkurangnya habitat, gangguan di kawasan peneluran, hingga pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga populasi satwa yang dilindungi tersebut.

Akademisi Universitas Muhammadiyah Luwuk, Wahyudin Karim, turut mempresentasikan hasil penelitian mengenai kondisi dan sebaran burung maleo di Kabupaten Banggai.

Sementara itu, Komunitas Iguana Tompotika membagikan praktik baik dan pengalaman mereka mendampingi upaya konservasi maleo di Bentang Alam Tompotika melalui pendekatan berbasis masyarakat.

DSLNG Ajak Generasi Muda Banggai Jadi Garda Terdepan Pelestarian Burung Maleo

Diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa dari Unismuh Luwuk dan Universitas Tompotika Luwuk aktif menyampaikan pertanyaan dan pandangan mengenai peran generasi muda dalam mendukung konservasi satwa endemik Sulawesi.

Kegiatan ditutup dengan pembacaan komitmen bersama pelestarian burung maleo sebagai simbol tekad seluruh peserta untuk terus menjaga salah satu kekayaan hayati Sulawesi. Melalui kolaborasi yang semakin kuat, diharapkan burung maleo tetap lestari sebagai warisan Sulawesi untuk Indonesia dan dunia. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *