KABAR LUWUK – Topeng kelana khas Cirebon berwarna merah menyala itu menutupi hampir seluruh wajah Daniella Lisyanti Herpang. Hanya sepasang matanya yang tampak dari balik lubang kecil di bagian depan, menangkap setiap aba-aba pelatih.
Di halaman Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kota Cirebon, Jawa Barat, siswi kelas VII B yang akrab disapa Olif itu menari mengikuti irama musik. Kedua tangannya mengayun, menekuk, lalu berhenti dalam satu gerak yang perlahan semakin padu dengan teman-temannya.
Terik mentari pada Rabu (17/6) siang tak menggoyahkan semangatnya. Peluh membasahi pelipis. Sesekali topeng itu ia lepaskan untuk mengusap wajah, sebelum kembali menyatu dengan irama.
Tak setiap gerak berjalan sempurna. Ada kalanya langkah Olif terlambat mengikuti ketukan hingga memancing gelak tawa teman-temannya.
Saat ditemui ANTARA di sela-sela latihan, Olif mengaku kecintaannya terhadap seni tari telah tumbuh sedari kecil.
Setiap kali pertunjukan tari topeng atau jaipongan digelar di sekitar rumahnya, ia enggan beranjak sebelum pementasan usai.
Kekaguman yang mulanya tumbuh dari balik bangku penonton, perlahan berubah menjadi hasrat untuk berdiri di atas panggung.
Kesempatan itu datang ketika Sekolah Rakyat membuka kegiatan seni. Tak lama berselang, Olif sudah merasakan atmosfer Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat kota.
“Hasilnya waktu lomba itu, kami kalah,” katanya sambil terkekeh.
Alih-alih menyerah, ia tidak kapok karena kekalahan itu justru memperpanjang daftar mimpinya. Olif ingin memiliki sanggar seni sendiri dan suatu hari membawa tari khas Cirebon melintasi batas negeri.
“Barangkali, aku bisa ikut tampil tari ke Jepang,” ujarnya.
Dulu, mimpi seperti itu nyaris tak berani ia gantungkan. Selepas lulus sekolah dasar (SD), keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya hampir mengubur harapan untuk kembali mengenakan seragam.
Ayahnya yang bekerja serabutan kemudian mengajaknya mempertimbangkan Sekolah Rakyat. Meski sempat gamang karena harus tinggal jauh dari rumah, keraguan itu perlahan luruh.
Di Sekolah Rakyat, Olif menemukan lingkungan yang membuatnya merasa diterima. Guru, wali asuh, hingga kepala sekolah menurutnya selalu sigap membantu ketika siswa mengalami kesulitan.
Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran yang paling ia tunggu. Permainan tebak kata dan berbagai aktivitas di kelas membuat proses belajar terasa ringan.
Akhir pekan pun tak pernah terasa lengang. Siswa membuat kerajinan tangan, menonton film bertema sejarah, hingga berjalan santai di luar lingkungan sekolah.
“Pokoknya semua kegiatan itu suka dipikirin, besok mau ngapain dan kegiatannya apa saja supaya kita enggak bosan,” ujarnya.
Perubahan terbesar justru hadir dalam kebiasaan sehari-hari. Kini, shalat lima waktu, membaca Al-Quran, hingga menghafal ayat menjadi rutinitas yang berusaha dijaganya.
Di Sekolah Rakyat, kebutuhan belajar hingga makan sehari-hari telah tersedia. Seragam, buku, alat tulis, hingga kebutuhan dasar lainnya tak lagi menjadi beban yang harus dipikirkan keluarganya.
“Kebutuhan belajar, makan, hingga perlengkapan sekolah sudah tersedia. Jadi untuk orang tua enggak usah mikirin apa-apa. Yang penting anaknya belajar,” tegasnya.
Saat ini, kegundahannya telah berganti arah. Pikirannya justru dipenuhi langkah-langkah tari yang ingin terus disempurnakan, hingga suatu hari mengantarkannya ke panggung yang lebih luas, bahkan melintasi batas negeri.
Kesempatan
Di area asrama putra yang letaknya tak jauh dari tempat latihan tari, suasana terasa berbeda. Muhammad Ridwan duduk di atas ranjang susun besi sambil menekuni manga Mob Psycho 100 karya komikus Jepang dengan nama pena ONE.
Berbeda dengan Olif, Ridwan menikmati waktunya dengan membaca komik. Apalagi bahan bacaan seperti manga tersedia di Sekolah Rakyat.
Saat berbincang dengan ANTARA, remaja berusia 14 tahun tersebut memang tidak banyak bicara. Ia kerap berpikir sejenak sebelum menjawab. Namun ketika pembicaraan mengarah ke manga, antusiasmenya langsung terlihat.
Salah satu tokoh favoritnya adalah Dokter Tenma dari manga Monster, karya Naoki Urasawa. Karakter itu menarik karena punya prinsip menyelamatkan nyawa manusia meski harus menghadapi berbagai konsekuensi.
Kegemarannya membaca kemudian berkembang menjadi kesukaan menulis. Saat melihat pengumuman FLS2N di papan informasi sekolah, ia memilih mengikuti cabang lomba cerita pendek (cerpen).
Dari beberapa genre yang tersedia, Ridwan menggarap tema menjaga bumi. Ia lalu menulis kisah tentang masa depan ketika bumi tidak lagi layak dihuni akibat polusi.
Tokoh utamanya, kata dia, seorang remaja bernama Husen yang berjuang mencari cara menyelamatkan adiknya yang mengalami gangguan pernapasan.
Ia menyampaikan dalam kisah tersebut, Husen membangun komunitas lingkungan, mempelajari berbagai pengetahuan dari buku, dan berusaha menciptakan teknologi untuk memperbaiki kondisi bumi.
“Saya buat cerpen ini, karena terinspirasi dari kisah beberapa manga, termasuk Dr. Stone,” katanya.
Akhir cerita yang ditulis Ridwan sengaja dibuat bahagia. Sebab, menurutnya selalu ada kemungkinan untuk memperbaiki keadaan.
Cara pandang tersebut tampaknya tidak jauh berbeda dengan perjalanan hidupnya sendiri. Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Ridwan putus sekolah selama setahun usai menamatkan pendidikan di madrasah ibtidaiyah (MI).
Kondisi ekonomi memaksanya tidak melanjutkan sekolah. Ridwan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja serabutan dan pernah menjadi tukang las.
“Saya kalau makan, sehari sekali. Terkadang harus barengan sama adik saya,” ujarnya.
Kesempatan kembali bersekolah melalui Sekolah Rakyat menjadi titik balik baginya. Sekarang ia bisa membaca manga, mengikuti lomba menulis, berdiskusi dengan guru, sekaligus mengembangkan minat yang selama ini terpendam.
Jika dulu bercita-cita menjadi astronot, kini mimpinya berubah. Ridwan ingin menjadi pengusaha, bahkan politikus.
Melanjutkan obrolan dengan ANTARA, Ridwan mengaku tak terlalu suka jika kisah hidupnya hanya dipandang dari sisi kemiskinan.
Baginya, yang semestinya dilihat bukan lagi latar belakang keluarganya, melainkan apa yang mampu ia lakukan dan capai.
Kehadiran negara melalui Sekolah Rakyat, semestinya membuat kisah itu berhenti menjadi label. Sebab, yang ingin ia tunjukkan kini adalah kemampuan, bukan keterbatasan.
Terselamatkan
Jumat (19/6) menjadi hari yang melegakan bagi dua ayah itu. Di sela pembagian rapor di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kota Cirebon, Syaiful Anwar dan Deni Herpang menyaksikan sendiri perubahan yang dialami Ridwan dan Olif.
Di balik kebanggaan itu, keduanya menyimpan cerita panjang tentang perjuangan mempertahankan pendidikan anak di tengah keterbatasan ekonomi.
Syaiful, ayah Ridwan, bekerja serabutan di bengkel dengan penghasilan yang tidak menentu, bahkan seringnya di bawah upah minimum kota.
Saat panggilan kerja sepi, pemasukan keluarganya ikut menyusut sehingga kebutuhan pendidikan anak kerap menjadi persoalan. Oleh karena itu, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi penolong bagi keluarganya.
“Anak saya terselamatkan berkat Sekolah Rakyat. Sangat membantu sekali,” ungkapnya.
Sementara itu, perjuangan Deni Herpang dimulai jauh sebelum Olif mengenakan seragam Sekolah Rakyat.
Sejak istrinya meninggal ketika Olif baru berusia tiga tahun, ia memilih meninggalkan pekerjaan tetap sebagai salesman agar dapat membesarkan ketiga anaknya sendiri.
Berbagai pekerjaan serabutan dilakoninya, mulai dari menjadi tukang hingga membantu berjualan putu ketan dengan upah sekitar Rp60 ribu sehari.
Beban Deni tak hanya memenuhi kebutuhan Olif. Anak sulungnya merupakan penyandang tunarungu. Di saat yang sama, ia harus membiayai sekolah anak-anaknya dengan penghasilan seadanya.
Ia mengakui Olif pun pernah berangkat sekolah, hanya dengan uang saku Rp2.000 hingga Rp3.000.
Menurut Deni, program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui Kementerian Sosial (Kemensos) telah memberi kesempatan bagi keluarga kecil seperti dirinya untuk tetap menyekolahkan anak.
Ia pun melihat perubahan Olif setiap kali putrinya pulang ke rumah, sekaligus semakin mantap mendukung bakat menari yang kini berkembang di sekolah.
“Kalau untuk prestasi seperti itu saya dukung banget. Seratus persen,” katanya.
Keduanya mengamini, program tersebut menjadi instrumen untuk menjangkau anak-anak yang tidak lagi mengakses pendidikan di Kota Cirebon.
Kini, Olif dan Ridwan tak lagi masuk dalam daftar 3.486 anak di Kota Cirebon yang belum pernah sekolah, putus sekolah, maupun lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan.
Mengejar
Ada alasan mengapa Olif kembali berani bermimpi, sementara Ridwan menemukan jalan untuk menulis. Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kota Cirebon, proses belajar berlangsung jauh melampaui ruang kelas.
Fiqih, penanggung jawab kurikulum, menjelaskan pola pembelajaran di sekolah tersebut tetap mengacu pada kurikulum nasional.
Bedanya, sistem asrama membuat proses belajar berlangsung hampir sepanjang hari dengan penekanan pada pembentukan karakter dan pendampingan sosial.
Sebelum masuk kelas, setiap siswa menjalani asesmen. Anak yang pernah bersekolah melanjutkan pendidikan sesuai jenjangnya, sedangkan yang belum pernah sekolah mengikuti Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Bagi yang masih kesulitan membaca, menulis, dan berhitung, sekolah menyediakan pendampingan intensif.
“Hampir 90 persen anak sudah bisa mengikuti pembelajaran,” kata Fiqih.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kota Cirebon Khaerunisa, kala berbincang dengan ANTARA, menuturkan tantangan terbesar bukan semata-mata mengejar capaian akademik.
Sebagian besar siswa di sekolahnya, datang dengan beban hidup yang lebih berat daripada pelajaran di kelas.
Oleh karena itu, guru dan wali asuh hadir sebagai orang tua selama mereka tinggal di asrama, mendampingi sejak subuh hingga malam.
Pendekatan multi-entry multi-exit diterapkan agar anak yang sempat putus sekolah, tetap dapat melanjutkan pendidikan setelah kemampuan dasarnya dipetakan.
Hasilnya mulai tampak. Ridwan, misalnya, berhasil menembus peringkat ketujuh lomba penulisan cerpen tingkat kota.
Sekolah rintisan yang dibuka pada 2025 itu menjadi salah satu dari dua Sekolah Rakyat jenjang SD pertama di Indonesia. Dari 100 siswa yang diterima pada awal penyelenggaraan, lebih dari 70 masih bertahan mengikuti pendidikan.
Pendampingan berlanjut di asrama. Wali asrama putri Esti Farokah mengatakan selalu ada pendamping yang berjaga selama 24 jam.
“Di sini kami dianggap orang tua. Kalau ada anak sakit, rasa khawatirnya sama seperti saat anak sendiri sakit,” ujarnya.
Wali asuh lainnya bernama Alfrian menambahkan, pendampingan tidak berhenti pada pengawasan, tetapi menyentuh perkembangan perilaku dan kondisi psikologis siswa.
Bagi anak yang mengalami trauma, sekolah bekerja sama dengan tim psikolog Kemensos untuk memberikan pendampingan sesuai kebutuhan.
Ia pernah mendampingi seorang siswa difabel hingga mampu ke toilet secara mandiri. Pengalaman tersebut begitu membekas di hati kecilnya.
Ikhtiar
Menghadirkan siswa ke Sekolah Rakyat pun tidak selalu mudah. Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kota Cirebon, Deisyta Claudia Kandou, atau Cici mengaku harus mendatangi rumah warga berulang kali, untuk meyakinkan orang tua yang khawatir anaknya akan dipisahkan dari keluarga.
Salah satunya keluarga Masduki dan Nurhalimah di Kelurahan Kalijaga. Ia bahkan meminta mereka mencari informasi melalui media sosial agar memahami konsep program tersebut.
Setelah beberapa kali kunjungan, kata Cici, mereka akhirnya bersedia menyekolahkan dua anaknya di Sekolah Rakyat.
Perjuangannya tidak berhenti di situ. Pendamping PKH pun harus mengurus beberapa dokumen agar anak dapat diterima sebagai peserta didik.
Kasus tersebut menjadi salah satu dari hampir 300 anak yang harus dijangkau Cici di wilayah dampingannya. Tantangan terbesar bukan administrasi, melainkan mengubah cara pandang masyarakat yang belum mengenal Sekolah Rakyat.
Dalam proses penjaringan, kuota peserta Sekolah Rakyat di Kota Cirebon telah terpenuhi sebanyak 30 orang dan selanjutnya akan ditetapkan melalui rapat pleno sebelum disahkan oleh Wali Kota.
Program ini menyasar anak-anak, dari keluarga miskin ekstrem yang masuk kategori desil 1 dan desil 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Berdasarkan data awal (pra-list) dari Kemensos, jumlah sasaran di Kota Cirebon pada 2026 mencapai sekitar 21 ribu jiwa.
Dari data tersebut, petugas seperti Cici melakukan penyisiran untuk memastikan calon peserta benar-benar memenuhi kriteria. Prioritas utama Sekolah Rakyat adalah anak-anak yang putus sekolah.
Hal tersebut sejatinya sudah ditegaskan oleh Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf dalam lawatannya di Majalengka, Jawa Barat, pada April 2026. Sekolah Rakyat difokuskan untuk menyasar keluarga paling tidak mampu.
“Program ini untuk keluarga yang paling tidak mampu, dan kita pastikan yang bisa sekolah di sini adalah mereka yang benar-benar membutuhkan,” tegas Mensos.
Pria yang akrab disapa Gus Ipul tersebut menekankan, Sekolah Rakyat merupakan bagian dari strategi Presiden Prabowo untuk mengentaskan kemiskinan secara terpadu.
Hal ini karena selain anak memperoleh pendidikan, keluarga penerima manfaat (KPM) turut diberdayakan melalui berbagai program pemerintah, seperti renovasi rumah, jaminan kesehatan, pelatihan keterampilan, hingga dukungan membuka usaha agar mampu keluar dari kemiskinan.
Secara nasional, pemerintah menargetkan jumlah siswa Sekolah Rakyat dapat tembus di atas 400 ribu siswa pada 2029, dengan pembangunan sekolah permanen terus dilakukan di berbagai daerah.
Pada akhirnya, program Sekolah Rakyat terus berjalan untuk mengembalikan asa keluarga-keluarga yang selama ini hidup dalam keterbatasan, agar kemiskinan tidak lagi menjadi alasan seorang anak kehilangan masa depan. (Antara)
Oleh Fathnur Rohman



