KABAR LUWUK – Tren doomscrolling atau kecanduan menggulir konten negatif di media sosial kini menjadi perhatian serius.
Menanggapi fenomena tersebut, Indibiz KTI
berkolaborasi dengan Banua Literasi mengadakan webinar khusus untuk membedah urgensi literasi digital di tengah gempuran informasi yang tak terbatas, Selasa (31/3).
Acara yang diikuti oleh 25 peserta ini menghadirkan perspektif menarik mengenai cara menjaga kesehatan mental di era digital. Andi Abdul Waris, Manager Witel Business Service, secara resmi membuka kegiatan dengan mengingatkan pentingnya manajemen waktu saat berinteraksi di dunia maya.

“Sering kali kita niatnya cuma mau lihat info sebentar, eh tahu-tahu sudah satu jam lewat hanya untuk melihat konten yang bikin kita stres. Kita mau generasi muda kita jadi Generasi Emas di 2045, bukan generasi yang habis waktunya cuma buat scroll tanpa arah. Mari mulai gunakan gadget kita lebih cerdas lagi,” ujar Andi.
Sri Ajrania, M.Si, narasumber sekaligus praktisi literasi, menjelaskan bahwa Gen Z kini
mendominasi 60% pengguna media sosial di Indonesia.
Tanpa literasi yang kuat, besarnya angka pengguna ini justru berisiko melahirkan kecemasan massal akibat paparan konten yang tidak sehat secara terus-menerus.
Ia juga menambahkan bahwa kunci utama keluar dari jebakan doomscrolling adalah dengan mengenali sinyal tubuh dan pikiran.
Ketika media sosial mulai memicu perasaan tidak aman atau membanding-bandingkan diri dengan orang lain, itu adalah tanda bahwa literasi digital seseorang perlu dievaluasi.
“Ponsel kita itu jendela dunia, tapi kalau jendelanya cuma menyajikan mendung dan badai, mental kita pasti drop. Literasi digital itu cara kita memilih jendela mana yang mau kita buka. Kalau sudah merasa mulai membanding-bandingkan hidup dengan orang lain secara berlebihan, itu sinyal buat taruh HP-nya dan kembali ke dunia nyata,” kata Sri Ajrania.
Webinar ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang antusias dari para peserta. Melalui inisiatif Indibiz KTI, diharapkan masyarakat semakin sadar bahwa produktivitas di dunia digital hanya bisa dicapai jika pengguna mampu mengendalikan arus informasi, bukan justru dikendalikan olehnya. (Rls)



